
Alika Rahma Amelia
Media Sosial saat ini menjadi salah satu tempat utama bagi masyarakat dalam mendapat informasi tentang agama. Pegajian yang dulu hanya bisa di dengar langsung dari masjid, majlis atau acara pengajian kini tersedia dalam bentuk vidio di berbagai platform media sosial. Perkembangan ini membuat penyampaian pesan dakwah menjadi lebih mudah dan mencakup lebih banyak orang. Hendra dan Saputri menjelaskan bahwa perkembangan media sosial telah membuat dakwah mengalami pergeseran, karena masyarakat tidak lagi hanya menerima dakwah melalui mimbar, tetapi juga melalui berbagai media sosial YouTube, Instagram, Tik Tok dan Facebook. Kemudahan tersebut sebenarnya membuka peluang besar bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan tentang agama. Namun, masalah muncul ketika ceramah yang di sebar bukan dalam bentuk lengkap, melainkan hanya berupa potongan vidio.
Beberapa kalimat dari sebuah ceramah bisa di pisahkan dari pembicaraan sebelumnya, lalu diunggah lagi dengan judul atau penjelasan tertentu, potongan tersebut kemudian menyebar dan menjadi topik pembicaraan di kalangan masyarakat, tetapi tidak selalu di jelaskan latar belakang atau konteks aslinya. Vidio potongan sering kali membuat menarik, mengejutkan atau kontroversial. Padahal satu kalimat dalam ceramah tidak selalu bisa dipahami hanya dari beberapa detik vidio, bisa jadi ada penjelasan sebelum atau setelah bagian itu yang memberi arti berbeda. Ketika bagian tersebut dipisahkan, cara memahami pesan yang disampaikan juga bisa berbeda, dalam situasi tersebut masalahnya bukan tentang ucapan para pendakwah, tetapi juga tentang cara potongan itu disebarkan dan diterima oleh masyarakat.
Masalah tersebut menjadi lebih parah karena berita di media sosial bisa menyebar dengan sangat cepat, Maulidna dkk. menyatakan bahwa salah satu tantangan besar dalam berdakwah di media digital adalah adanya penyebaran informasi yang tidak benar, banyak informasi yang beredar tidak melewati proses pengecekan yang cukup baik, hal ini menunjukkan bahwa kecepatan dalam menyebarkan informasi tidak selalu menjamin akurasi informasi yang diterima oleh masyarakat. Saat sebuah bagian ceramah mulai menyebar cepat, orang-orang umumnya langsung memberikan tanggapan. Beberapa orang merasa pendakwah itu salah, ada yang mendukung, bahkan ada yang membuat video untuk menjawab potongan tersebut. Perdebatan semakin berlanjut karena setiap orang memberikan pendapatnya berdasarkan informasi yang mereka lihat. Dalam situasi seperti ini, masyarakat sebenarnya bisa berdiskusi tentang hal-hal yang belum sepenuhnya mereka mengerti.
Masalah tersebut menunjukkan bahwa viral tidak berarti benar. Banyaknya penonton, komentar, atau orang yang membagarkan video hanya menunjukkan bahwa konten tersebut menarik perhatian masyarakat. Hal itu tidak secara otomatis menunjukkan bahwa isi video itu benar atau bahwa bagian yang beredar sudah mewakili seluruh ceramah tersebut. Saat sebuah video semakin dilihat banyak orang, memeriksa latar belakangnya pun semakin penting. Selain itu, media sosial memiliki sifat yang membuat informasi bisa diterima dengan mudah, meskipun tidak ada komunikasi langsung antara pendakwah dan masyarakat. Hendra dan Saputri menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam berdakwah melalui media sosial adalah mad’u sering kali tidak bisa mengkonfirmasi atau bertanya langsung ketika ada materi yang tidak mereka mengerti, sehingga materi dakwah bisa diterima begitu saja. Kondisi ini menjadi masalah ketika masyarakat hanya menerima bagian-bagian ceramah tanpa kesempatan untuk memahami maksud sebenarnya dari pendakwah.
Itulah mengapa kemampuan masyarakat dalam memverifikasi informasi sangat penting. Verifikasi terhadap bagian video ceramah tidak harus dilakukan dengan cara yang sulit. Masyarakat bisa memulai dengan mencari video yang lengkap, melihat siapa yang pertama kali mengunggah video tersebut, memperhatikan kapan dan dalam situasi apa ceramah itu disampaikan, serta membandingkan informasinya dengan sumber-sumber lain yang terpercaya. Langkah sederhana ini bisa membantu seseorang agar tidak langsung menyimpulkan sesuatu hanya karena melihat potongan video yang muncul di halaman media sosial.
Verifikasi juga dibutuhkan karena sebuah video bisa diberi penjelasan tambahan oleh akun yang mengunggahnya. Judul, caption, atau komentar bisa memengaruhi cara seseorang memahami apa yang ada dalam video. Misalnya, sebuah ceramah yang sebenarnya sedang membahas suatu isu secara rinci bisa terasa berbeda jika hanya diambil satu kalimat yang dianggap menimbulkan polemik. Akhirnya, masyarakat tidak hanya mendengar isi ceramah, tetapi juga memahami cara orang lain menyusun dan menampilkan ceramah itu.
Konten yang berisi hal-hal negatif atau menggugah perasaan juga cenderung mudah menarik perhatian masyarakat. Maulidna dkk.menjelaskan bahwa konten negatif dan provokatif biasanya lebih menarik perhatian dibandingkan konten yang bersifat positif dan edukatif. Hal ini bisa menjelaskan mengapa bagian ceramah yang berisi pernyataan kontroversial lebih mudah diperhatikan daripada seluruh ceramah yang mungkin berisi penjelasan yang lebih panjang dan berisi nada yang lebih tenang. Keadaan itu menyebabkan masalah tersendiri dalam menyampaikan informasi keagamaan. Ketika masyarakat cenderung fokus pada bagian yang memicu kemarahan atau perdebatan, isi ceramah bisa jadi tidak mendapat perhatian yang cukup. Ceramah akhirnya tidak lagi dibicarakan karena isinya yang berhubungan dengan keagamaan, melainkan karena adanya kontroversi yang timbul dari bagian video tersebut. Padahal, tujuan utama dari sebuah ceramah adalah menyampaikan pesan agama, bukan hanya untuk mencuri perhatian saja.
Persoalan ini juga menunjukkan bahwa tanggung jawab tidak hanya jatuh pada pendakwah saja. Pendakwah memang harus memperhatikan etika saat menyampaikan pesan melalui media digital, tetapi masyarakat yang menerima informasi juga wajib bertanggung jawab dengan tidak langsung menyebarluaskan berita yang belum jelas. Maulidna dan temannya menekankan pentingnya pendidikan, menggunakan platform yang bisa dipercaya, mengikuti pedoman etika dalam dakwah secara digital, serta melakukan dialog yang saling menghormati untuk menghadapi berbagai tantangan dalam berdakwah di media digital. Bagi masyarakat, terutama pengguna media sosial, sikap kritis sangat penting untuk menghadapi potongan ceramah yang sedang viral.
Tidak semua video yang muncul di beranda layar harus langsung dipercaya, dan tidak semua video yang sedang banyak dibicarakan harus langsung dibagikan. Berhenti sejenak untuk memeriksa asal usul dan latar belakang sesuatu justru bisa mencegah terjadinya kesalahpahaman yang lebih besar. Hal itu juga penting karena media sosial memungkinkan seseorang menilai tokoh agama hanya melalui satu klip video. Padahal, kualitas pikiran seseorang tidak selalu bisa diukur dari sekadar beberapa detik rekaman. Jika video potongan menjadi satu-satunya acuan untuk menilai seseorang, maka masyarakat berisiko membuat penilaian yang terburu-buru.
Akhirnya, masalah tentang potongan video ceramah yang tengah viral bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal bagaimana masyarakat menerima dan memproses informasi keagamaan. Media sosial memang membuka peluang yang luas untuk menyebarkan pesan dakwah, tetapi di sisi lain, hal ini juga menimbulkan tantangan baru bagi para pendakwah dan masyarakat umum. Hendra dan Saputri menunjukkan bahwa perkembangan media sosial memberi pengaruh baik maupun tantangan bagi dunia dakwah. Oleh karena itu, potongan video ceramah tidak seharusnya langsung digunakan sebagai dasar untuk menilai apakah sebuah pernyataan keagamaan itu benar atau salah. Masyarakat harus menonton video secara lengkap, memahami latar belakang pembicaraan, mencari sumber yang benar, dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Semakin sebuah ceramah beredar luas, semakin penting proses pengecekan kebenarannya dilakukan.
Oleh karena itu, masalah utamanya bukan terletak pada adanya ceramah di media sosial, melainkan pada cara ceramah tersebut dibuat, dipotong, diberi cerita, disebarluaskan, dan akhirnya dipahami oleh masyarakat. Viralitas seharusnya tidak menggantikan proses verifikasi. Media sosial bisa jadi tempat yang bagus untuk mendapatkan pengetahuan agama selama masyarakat tidak hanya menonton dan menyebarkan informasi, tetapi juga mampu memperhatikan dan menilai kembali informasi yang diterima. Dengan demikian, potongan ceramah yang beredar itu tidak langsung bisa dijadikan sebagai kesimpulan, melainkan harus diperiksa terlebih dahulu sebelum diterima dan disebarluaskan.
Daftar Pustaka
Hendra, Tomi, dan Siti Saputri. “Tantangan Dakwah Dalam Arus Perkembangan Komunikasi Media Sosial.” Al Hikmah: Jurnal Dakwah dan Ilmu Komunikasi 7, no. 1 (2020)
Maulidna, Firman, Khairatul Ulfi, Annisa Mulia, Ahmad Zuhri Ramadhan, dan Muhammad Saleh. “Etika Dakwah di Media Digital : Tantangan dan Solusi.” Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam 3, no. 2 (2025)

