
Sabrina Aura Shafa
Mahasiswa AFI A3 Fakutas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Sunan Ampel Surabaya
Di era digitalisasi dan informasi saat ini, produksi pengetahuan tidak hanya ketergantungan pada aktivitas murni manusia yang tidak bisa digantikan dengan alat, melainkan telah beralih pada sistem sosio-teknis yang artinya teknologi tidak pernah berdiri sendiri di ruang hampa, tetapi teknologi selalu berkaitan dengan elemen sosial. Munculnya teknologi seperti AI writing tools, riset berbasis big data, serta otomatisasi review literatur telah merubah lanskap riset secara fundamental.(Pujawiyanti,2025)
Fenomena ini membawa persoalan serius terhadap konsep subjek otonom. Jika dahulu peneliti di anggap otoritas tunggal yang memiliki kendali penuh atas pemikiran, nalar dan temuannya, maka kini algoritma mengambil peran penting dalam memfilter, mensintesis, hingga merumuskan narasi ilmiah. Sehingga menimbulkan pertanyaan apakah manusia masih menjadi subjek yang berwenang dalam memproduksi pengetahuan, ataukah manusia telah terdekontruksi hanya sekadar menjadi operator dalam ekosistem algoritma?
Dalam kajian epistemologi, manusia biasanya dipandang sebagai subjek otonom, yaitu pihak yang secara mandiri berpikir, menganalisis, dan menghasilkan pemahaman baru. Mahasiswa tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga menafsirkan, mengkritisi, dan mengembangkan gagasan berdasarkan pemikiran sendiri. Tetapi, dengan semakin seringnya penggunaan teknologi berbasis algoritma, peran tersebut mulai mengalami perubahan. (Mareta,2025)
Saat ini, banyak mahasiswa yang menggunakan AI untuk membantu menyusun tulisan, mencari referensi, atau merangkum jurnal. Teknologi ini memang sangat membantu, terutama ketika mahasiswa menghadapi keterbatasan waktu atau kesulitan memahami materi yang kompleks. Akan tetapi, jika digunakan secara berlebihan tanpa pemahaman yang mendalam, mahasiswa bisa saja hanya menjadi pengguna informasi, bukan lagi pencipta gagasan. Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa cenderung mengandalkan sistem untuk menghasilkan jawaban, sementara proses berpikir kritis menjadi berkurang.
Fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk dekonstruksi terhadap konsep subjek otonom dalam produksi pengetahuan. Artinya, posisi manusia sebagai pusat utama dalam menghasilkan ilmu mulai berubah karena adanya peran teknologi. Algoritma yang digunakan dalam AI mampu mengolah data dalam jumlah besar, menemukan pola, dan memberikan rekomendasi informasi yang relevan. Hal ini membuat proses penelitian menjadi lebih praktis, tetapi juga dapat menggeser cara mahasiswa memahami pengetahuan itu sendiri.
Penting untuk dipahami bahwa teknologi sebenarnya tidak diciptakan untuk menggantikan manusia. AI dirancang sebagai alat bantu yang dapat mendukung proses belajar dan penelitian. Dalam konteks ini, mahasiswa tetap memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam memahami makna dari informasi yang diperoleh. Mesin mungkin dapat memberikan data atau rangkuman, tetapi kemampuan untuk menilai, mempertanyakan, dan mengembangkan ide tetap berada pada manusia.(Farasyatul ,2025)
Oleh karena itu, penggunaan AI dalam dunia akademik sebaiknya disertai dengan sikap kritis dan tanggung jawab. Mahasiswa perlu menyadari bahwa teknologi hanyalah sarana untuk membantu proses belajar, bukan sebagai sumber utama pemikiran. Dengan memanfaatkan AI secara bijak, mahasiswa justru dapat meningkatkan kualitas penelitiannya, misalnya dengan lebih fokus pada analisis, diskusi, dan pengembangan gagasan baru. Dalam hal ini, teknologi dapat menjadi partner dalam proses pembelajaran, bukan pengganti peran manusia. (Reski,2024)
Selain itu, dosen dan institusi pendidikan juga memiliki peran penting dalam mengarahkan penggunaan teknologi di lingkungan akademik. Pendidikan tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa tulisan atau laporan, tetapi juga pada proses berpikir yang dilakukan oleh mahasiswa. Jika mahasiswa didorong untuk memahami materi secara mendalam dan mengembangkan argumentasi sendiri, maka penggunaan AI dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat.
Pada akhirnya, perubahan yang terjadi dalam produksi pengetahuan di era teknologi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dunia pendidikan akan terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Namun, hal yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kemampuan berpikir manusia. Mahasiswa tetap perlu menjaga kemandirian dalam berpikir, sehingga pengetahuan yang dihasilkan tidak hanya berasal dari mesin, tetapi juga dari refleksi, pengalaman, dan pemahaman yang mendalam (Ramadhan,2025)
Dekonstruksi subjek otonom dalam produksi pengetahuan bukan berarti manusia kehilangan perannya, melainkan menunjukkan bahwa cara manusia menghasilkan pengetahuan sedang berubah. Tantangannya bukan pada keberadaan teknologi itu sendiri, tetapi pada bagaimana mahasiswa dapat tetap menjadi subjek yang aktif, kritis, dan kreatif dalam menggunakan teknologi tersebut. Jika hal ini dapat dilakukan, maka AI tidak akan menjadi ancaman, melainkan menjadi alat yang membantu mahasiswa berkembang dalam dunia akademik yang semakin modern.
Daftar Pustaka
’Alam, Ghasa Faraasyatul, Okta Purnawirawan, Admaja Dwi Herlambang, dan Maurish Sofie Rahmi Batita. “National Education Policy: Implementation of Artificial Intelligence in Higher Education.” Journal of Smart Education and Learning 2, no. 1 (2025): 11–21. https://doi.org/10.53088/jsel.v2i1.1925.
Mareta, Azzahra, dan Courtois Lorenzo. “THE RELEVANCE OF AL-GHAZALI’S THOUGHT TO THE CHALLENGES OF DIGITAL ETHICS IN THE MILLENNIAL ERA.” Journal of Islamic Studies, Journal of Islamic Studies (JOIS), 1(1), 35–40. https://journal.zmsadra.or.id/index.php/jois/article/view/61
Pujawiyanti, Gadis, dan Fahrus Zaman Fadhly. EXPLORING THE IMPACT OF AI WRITING TOOLS ON UNIVERSITY STUDENTS’ SYNTHESIS SKILLS IN ACADEMIC WRITING. Indonesian Journal of Learning and Instruction (IJLI), 7(2), 145–162. https://journal.uniku.ac.id/index.php/IJLI/article/view/11923
Ramadhan, Muhammad Aryo, Agus Gunawan, Saddam Lorenza, Zulfa Ainy, dan Mhd Subhan. Analisis Dampak Penggunaan Artificial Intelligence Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa.Jurnal Mudabbir: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. https://jurnal.permapendis-sumut.org/index.php/mudabbir/article/view/1111
Reski, Dwi Pita, Syamsu A. Kamaruddin, dan Abdullah Sinring. “Philosophy of Education in the Digital Age: The Balance between Technology and Humanism.” DIDAKTIKA : Jurnal Pemikiran Pendidikan 30, no. 2 (2024): 290. https://doi.org/10.30587/didaktika.v30i2.9065.

