
Nurul Fatimah
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan FilsafatUIN Sunan Ampel Surabaya
Dalam dunia akademik akhir-akhir ini dikejutkan dengan terjadinya pergeseran metode eksplorasi geofisika yang menggunakan gelombang suara atau getaran untuk mengetahui bagaimana cara pengetahuan diproduksi, yang pada mulanya meja perenungan subjek otonom menuju sirkuit algoritma yang serba otomatis. Janji terhadap peminimalan input untuk mencapai target output tertentu dalam otomatisasi review literatur sering digambarkan sebagai pembebasan peneliti dalam menjalankan tugas klerikal. Sedangkan dalam konteks klerikak yang dibutuhkan adalah kecepatan, ketelitian, manajemen waktu sehingga peneliti terbantu sedikit-sedikit dengan hadirnya otomatisasi review literatur. Namun faktanya dibalik kecepatan terhadap pengelolaan data-data tersebut, tersimpan ancaman dekontruksi pada agensi manusia. (Jean Baudrillard, 2019) Ketika mesin mulai menentukan narasi mana yang layak dikutip dan diskursus mana yang seharusnya dikesampingkan, dan secara tidak langsung sedikit demi sedikit kecerdasan buatan AI mulai menggantikan kedaulatan intelektual. Review literatur tidak hanya menjadi dialog dialektis antara pemikir dan teks, melainkan juga menjadi produk formalisme prosedural yang mekanis, di mana subjek manusia perlahan luluh menjadi sekadar operator di hadapan otoritas kognitif kecerdasan buatan.
Ketergantungan terhadap mesin untuk mencari dan pemilahan literatur berbasis kecerdasan buatan AI bukan sekadar urusan teknis mempercepat sitasi, namun pergeseran rezim pengetahuan. Sedangkan rezim kebenaran menemukan bentuk digitalnya berupa algoritma tidak lagi menjadi alat netral, namun menjadi otoritas yang mengatur diskursus apa yang dianggap valid dan mana yanng terkesampingkan. (Michel Foucault, 1980) Ketika peneliti mempercayakan proses kurasi intelektualnya kepada mesin seperti kecerdasan buatan AI, maka terjadilah hiperrealitas yaitu di mana ringkasan dan pemetaan otomatis AI dianggap lebih nyata dan komprehensif daripada pembacaan pada teks aslinya. Fenomena ini menandai dekontruksi subjek otonom yang seharusnya peneliti menjadi nahkoda atas arah pemikirannya sendiri, kini secara perlahan tereduksi menjadi sekadar validator dari pilihan-pilihan yang seharusnya telah ditetapkan, dan ditentukan oleh logika kode. (Sabina Leonelli, 2020)
Perkembangan kecerdasan buatan AI juga menghadirkan tantangan yang signifikan dalam menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan privasi dan hak asasi manusia (kedaulatan personal). Integrasi AI yang semakin meningkat dalam kehidupan sehari-hari memperbesar risiko terhadap privasi digital, akses informasi, dan komunikasi daring, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang pelanggaran hal asasi manusia. (Tareq Al-Billeh dkk, 2024) Ketika gugurnya kedaulatan intelektual disebut sebagai puncak tertinggi dalam dunia akademik, maka di bawahnya ada ancaman eksistensial terhadap privasi dan hak asasi manusia dimana algoritma tidak hanya membaca literatur kita, akan tetapi juga mulai membaca dan membatasi kehidupan privasi kita. Karena kedaulatan intelektual apresiasi manusia dalam berfikir dan kedaulatan personal hak manusia untuk bertindak tanpa intervensi, yang kemudian keduanya satu kesatuan sebagai benteng manusia yang sedang digempur oleh otomatisasi. Oleh sebab itu tanpa kebebasan berfikir kedaulatan personal menjadi hampa karena keputusan yang di ambil bukan lagi hasil dari kesadaran diri sendiri, melainkan hasil dorongan algoritma. (Stefano Rodota, 2014)
Selain itu dalam riset tradisional peneliti sering menemukan gagasan brilian secara tidak sengaja saat membaca dengan teliti halaman buku (serendipitas) ataupun membaca buku melalui media online. Namun AI yang saat ini bekerja berdasarkan filter bubbles, algoritma hanya akan menyajikan literatur yanng relevan secara statistik dengan kueri peneliti. Akibatnya keberagaman pemikiran kedaulatan intelektual gugur hanya karena peneliti dibekali informasi yang searah dengan pemikirannya sendiri. (Pariser E, 2024) Sama halnya ketika peneliti tidak lagi memverifikasi sumber asli karena percaya pada efisiensi mesin, peneliti tidak lagi memproduksi pengetahuan melainkan mereplikasi hasil AI yanng terstruktur dan mulai dari sinilah manusia kehilangan kemampuan kritisnya untuk dapat membedakan antara sebuah fakta dan sintesis buatan. (Ziwei Ji dkk, 2023)
Kesimpulan pahit yang harus kita telan bahwa efisiensi teknis bukanlah sinonim bagi kebenaran epistemis, dengan kita membiarkan algoritma mendikte apa yang layak dibaca dan dipikirkan. Bisa dikatakan kita bukan memajukan ilmu pengetahuan melainkan membangun perpustakaan simulakra di mana manusia hanya menjadi penjaga gerbang bagi hasil narasi yang disusun oleh mesin. Maka refleksi kedaulatan intelektual dan personal adalah benteng terakhir kemanusiaan di era digital, diharapkan manusia tidak sepenuhnya menyerahkan proses dialektika pada AI untuk menghindari risiko hilangnya kemampuan menghasilkan intuisi, dan diskursus kritis yang menjadi motor penggerak peradaban. (Shannon Vallor, 2016)
Solusi atas gugurnya kedaulatan intelektual ini bukanlah pelarian ke masa lalu yaitu pra-digital, melalinkan keberanian untuk tetap menjadi yang berwewenang atas teknologi kita sendiri. Dengan bantuan skeptisisme algoritmik posisi manusia yang menggunakan AI untuk mempercepat kerja, dan tetap memegang kendali penuh atas pemaknaan. Karena kebenaran ilmiah tidak boleh dipasrahkan pada barisan kode, kebenaran ilmiah harus tetap lahir dari pergulatan batin dan intelektual manusia. Dan memastikan dibalik megahnya arsitektur kode dan data tetap ada peran, subjek manusia yang berdaulat, mampu memproses informasi, memahami makna dan hasil, bagaimanapun keluarnya hasil dari mesin kecerdasan buatan AI tidak lepas dari bagaimana manusia seharusnya memerintahkan AI atas rancangan pengetahuannya.

