
Achmad subhan
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Dari remaja yang baru membuka mata dan langsung mengecek trending topic, hingga pensiunan yang rajin membagikan tautan berita di grup keluarga, kita semua sedang mengalami kejatuhan eksistensial yang sama. Kejatuhan di abad ke-21 ini tidak terjadi melalui penindasan fisik atau rezim otoriter yang kasat mata, melainkan berlangsung senyap di balik layar gawai yang terang benderang. Kita telah melangkah masuk ke dalam sebuah revolusi peradaban baru di mana seluruh realitas keseharian kita lebur menjadi sebuah totalitas data raksasa (Floridi 2014, 41). Dalam ekosistem digital ini, interaksi kita dengan dunia tidak lagi murni, melainkan dimediasi secara total oleh Kecerdasan Buatan (AI). Di sinilah Dari remaja yang baru membuka mata dan langsung mengecek trending topic, hingga pensiunan yang rajin membagikan tautan berita di grup keluarga, kita semua sedang mengalami kejatuhan eksistensial yang sama. Kejatuhan di abad ke-21 ini tidak terjadi melalui penindasan fisik atau rezim otoriter yang kasat mata, melainkan berlangsung senyap di balik layar gawai yang terang benderang. Kita telah melangkah masuk ke dalam sebuah revolusi peradaban baru di mana seluruh realitas keseharian kita lebur menjadi sebuah totalitas dataraksasa (Floridi 2014, 41). Dalam ekosistem digital ini, interaksi kita dengan dunia tidak lagi murni, melainkan dimediasi secara total oleh Kecerdasan Buatan (AI). Di sinilah krisis itu bermula: arsitektur teknologi pelan-pelan merampas otoritas pengetahuan kita, mengubah hakikat perjumpaan manusia dengan realitas menjadi murni instrumental.
Relasi yang terinstrumentalisasi ini menandai pudarnya kedaulatan kita atas informasi. Algoritma tidak beroperasi sebagai cermin yang netral untuk membantu kita mencari tahu, melainkan bertransformasi menjadi infrastruktur kekuasaan sosial yang secara aktif membentuk dan membatasi realitas apa yang boleh kita ketahui (Beer 2017, 5). Dalam kerangka kapitalisme pengawasan, seluruh denyut nadi pengalaman manusia dari apa yang kita tonton, rekam jejak belanja, hingga durasi kita menatap sebuah foto diekstraksi tanpa persetujuan sadar untuk dijadikan bahan baku prediksi perilaku (Zuboff 2019, 8). Subjek manusia yang merdeka diturunkan derajatnya menjadi sekadar variabel data yang bisa diukur. Akibatnya, yang tercipta adalah pola dominasi baru tatanan di mana kode komputer meregulasi keseharian kita tanpa menyisakan ruang untuk sanggahan.
Dalam dunia keseharian, struktur relasi black box (kotak hitam) ini secara perlahan menggerus kebebasan manusia dalam memaknai kebenaran. Kesadaran publik secara tak sadar digiring masuk ke dalam gelembung epistemik, di mana kita terus-menerus disuapi informasi yang hanya mengonfirmasi keyakinan dan ego kita (Nguyen 2020, 142). Kondisi ini melahirkan wilayah-wilayah algoritmik yang memperuncing polarisasi sosial di tengah masyarakat, membuat kita kebal terhadap fakta yang berbeda pandangan (Lim 2020, 2). Diskursus di ruang publik bukan lagi medium emansipasi dan pertukaran ide yang sehat, melainkan arena di mana “validitas” sebuah kebenaran ditundukkan secara mutlak oleh hegemoni “relevansi” dan viralitas. Kita tak lagi merdeka, sebab selera dan keyakinan kita telah dimodifikasi oleh sistem.
Akibatnya, pengalaman manusia dalam merengkuh “kebenaran” kehilangan kedalamannya. Pencarian ilmu yang seharusnya menjadi peristiwa reflektif yang panjang kini mengalami proses kemunduran. Kita sedang menyaksikan apa yang disebut sebagai matinya kepakaran, sebuah krisis kultural di mana setiap orang merasa memiliki otoritas yang setara dengan ilmuwan hanya bermodalkan ketikan di mesin pencari (Nichols 2017, 3). Realitas sains direduksi secara brutal menjadi sekadar penemuan korelasi statistik. Parahnya lagi, ketika otomatisasi pengetahuan ini digunakan untuk mengambil keputusan sosial, ia sering kali mereproduksi bias kelas dan rasial, memperdalam ketimpangan, serta menormalisasi penindasan tanpa ada empati manusiawi di dalamnya (Eubanks 2018, 12).
Kondisi inilah yang mengantarkan kita pada ancaman penguasaan data yang dipegang oleh sekelompok kecil orang atau “algokrasi”, di mana manusia menjalani kehidupan intelektualnya secara pasif dan mekanistik. Masyarakat dengan mudahnya mendelegasikan beban berpikir dan justifikasi rasional kepada mesin, melumpuhkan agensi intelektual kita sendiri. Di sinilah kita mendesak hadirnya sebuah pendakian eksistensial sebuah momentum gawat darurat untuk merebut kembali akal budi. Manusia harus diposisikan kembali sebagai subjek kritis yang berdaulat, bukan sekadar titik data dalam labirin algoritma milik korporasi teknologi.
Kesadaran otonom manusia ibarat sebuah sistem byte yang harus senantiasa dijaga agar tetap menyala. Setiap kali kita membedah informasi, meragukan narasi yang disodorkan beranda media sosial, dan menuntut transparansi algoritma, byte eksistensial kita sedang bekerja. Namun persoalannya, pesona kepraktisan digital sering kali meninabobokan kita hingga sistem pengawasan internal ini kembali off. Kita terlalu sering, dan secara sukarela, memenjarakan diri ke dalam struktur kebenaran artifisial karena merasa nyaman dengan apa yang disajikan.
Pada akhirnya, menolak tunduk pada algoritma bukanlah sikap kolot atau anti-teknologi, melainkan upaya membaca ulang “sinyal eksistensial” kita sebagai manusia yang berbudaya. Kita harus melacak di mana letak nalar kita yang terputus, di mana objektivitas kita tereduksi, dan di mana kebenaran telah berubah menjadi sekadar performa statistik semata. Menyadari bahwa kedaulatan pikiran kita sedang dirampas adalah langkah pertama untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tetap menjadi instrumen pembebasan peradaban. Manusia harus tetap dan selalu menjadi penafsir terakhir atas realitasnya sendiri.
Referensi
Beer, D. (2017). The Social Power of Algorithms. Information, Communication & Society, 20(1), 1–13.
Eubanks, V. (2018). Automating Inequality: How High-Tech Tools Profile, Police, and Punish the Poor. St Martin’s Press.
Floridi, L. (2014). The Fourth Revolution: How the Infosphere Is Reshaping Human Reality. Oxford University Press.
Lim, M. (t.t.). Affective Politics and Algorithms in the Neoliberal Social Media Landscape.
Nguyen, C. T. (2020). Echo Chambers and Epistemic Bubbles. Episteme, 17(2), 141–161.
Nichols, T. M. (2017). The Death of Expertise: The Campaign against Established Knowledge and Why It Matters. Oxford University Press.
Zuboff, S. (2020). The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. PublicAffairs

