AMARE ERGO SUM

Suhermanto Ja’far

Dosen Filsafat Digital Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Sejarah peradaban pada hakikatnya merupakan sejarah pencarian manusia tentang Otentisitas, Historisitas maupun keberadaannya. Perdebatan itu bermula dari pertanyaan klasik mengenai mana yang lebih fundamental: ide atau materi. Plato meletakkan hakikat realitas pada dunia ide yang bersifat abadi, sedangkan Aristoteles mengembalikan pembicaraan kepada dunia empiris sebagai titik tolak pengetahuan. Berabad-abad kemudian, perdebatan tersebut berkembang menjadi pertentangan antara idealisme dan materialisme, antara kesadaran dan realitas fisik, hingga mencapai puncaknya pada filsafat modern ketika René Descartes merumuskan Cogito, ergo sumAku berpikir, maka aku ada (Descartes [1641] 1996, 17–24; Ja’far 2024).

Sejak saat itu, pusat eksistensi manusia bergeser dari persoalan materi menuju pikiran. Otak menjadi simbol utama kemanusiaan; kemampuan berpikir dipandang sebagai pembeda paling hakiki antara manusia dan makhluk lainnya. Peradaban modern kemudian dibangun di atas supremasi rasionalitas yang melahirkan revolusi ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri, tetapi pada saat yang sama juga memunculkan persoalan baru berupa keterasingan, reduksionisme, dan krisis makna (Taylor 1989, 159–176).

Memasuki era digital, pusat eksistensi itu kembali mengalami pergeseran yang lebih radikal. Jika modernitas menempatkan otak sebagai pusat kehidupan manusia, maka masyarakat digital justru menempatkan jari jemari (digitus) sebagai medium utama eksistensi. Hari ini manusia bekerja, belajar, beribadah, mencintai, bahkan membangun identitas sosial melalui sentuhan ujung jari di atas layar. Satu sentuhan dapat menggerakkan pasar, memengaruhi opini publik, membangun relasi, atau justru menghancurkan martabat seseorang.

arti tertentu, digitus menjadi perpanjangan dari cogito; manusia seakan-akan hadir sejauh ia mengetik, mengunggah, menyukai, dan membagikan. Namun, ketika eksistensi direduksi menjadi aktivitas digital, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah manusia sungguh ada hanya karena ia berpikir dan menyentuh layar? Di tengah peradaban yang semakin didominasi kecerdasan buatan, algoritma, dan otomatisasi, justru hati dan kemampuan mencintai menjadi pembeda yang paling autentik antara manusia dan mesin. Jika rasio melahirkan pengetahuan dan digitus melahirkan konektivitas, maka cintalah yang memberi arah, makna, dan tujuan bagi keduanya. Dari sinilah lahir kebutuhan untuk merumuskan paradigma baru tentang eksistensi manusia: Amare, ergo sum—Aku mencinta, maka aku ada (Ja’far 2026).

Ketika Cinta Menjadi Bukti Paling Otentik Eksistensi Manusia

Barangkali tidak ada kalimat dalam sejarah filsafat modern yang lebih berpengaruh daripada ungkapan René Descartes, Cogito, ergo sumAku berpikir, maka aku ada. Melalui Meditations on First Philosophy, Descartes menempatkan aktivitas berpikir sebagai fondasi kepastian eksistensi manusia. Segala sesuatu dapat diragukan, tetapi tidak dengan fakta bahwa seseorang sedang berpikir. Dari sinilah lahir paradigma besar modernitas: akal menjadi pusat pengetahuan, manusia menjadi subjek utama, dan rasionalitas menjadi ukuran kebenaran (Descartes [1641] 1996, 17–24).

Paradigma tersebut melahirkan revolusi ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban modern. Rasionalitas membebaskan manusia dari takhayul, membuka jalan bagi kemajuan sains, dan memungkinkan lahirnya inovasi yang mengubah dunia. Namun, di balik keberhasilannya, modernitas juga menyisakan persoalan yang semakin nyata. Manusia semakin cerdas, tetapi tidak selalu semakin bijaksana. Ia mampu menghubungkan miliaran orang melalui teknologi digital, tetapi justru semakin kesepian. Ia menguasai alam, tetapi sering kehilangan dirinya sendiri. Rasionalitas yang semula membebaskan perlahan berubah menjadi ruang yang sunyi, ketika manusia dipahami terutama sebagai makhluk yang berpikir, bukan sebagai makhluk yang berelasi.

Kritik terhadap paradigma tersebut mulai muncul melalui fenomenologi Edmund Husserl. Menurut Husserl, kesadaran tidak pernah hadir dalam ruang kosong. Setiap kesadaran selalu merupakan kesadaran tentang sesuatu (intentionality). Tidak ada subjek yang berpikir tanpa objek yang dipikirkan. Dengan demikian, eksistensi manusia tidak dapat dipahami hanya melalui aktivitas berpikir yang berlangsung di dalam diri, tetapi juga melalui keterbukaan terhadap dunia. Pengetahuan lahir dari relasi antara subjek dan objek, antara manusia dan realitas yang dihadapinya (Husserl [1913] 1931, 182–183). Dalam perspektif ini, Cogito tidak lagi menjadi monolog, melainkan awal dari dialog (Ja’far 2024a).

Namun, kesadaran saja belum cukup menjelaskan keberadaan manusia. Setelah manusia menyadari dunia, bagaimana ia mewujudkan dirinya di dalam dunia itu? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Hannah Arendt melalui konsep action dalam The Human Condition. Arendt membedakan tiga bentuk aktivitas manusia, yaitu labour, work, dan action. Jika labour berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup, sedangkan work menghasilkan dunia buatan manusia, maka action merupakan ruang di mana manusia menampilkan dirinya melalui tindakan dan percakapan bersama orang lain (Arendt 1958, 7–21). Eksistensi, menurut Arendt, tidak dibangun dalam kesendirian, tetapi dalam pluralitas. Manusia benar-benar hadir ketika ia memasuki ruang publik, mengambil inisiatif, dan membangun relasi dengan sesamanya.

Akan tetapi, tindakan pun belum tentu bermakna. Dunia digital hari ini memperlihatkan bagaimana tindakan dapat berubah menjadi sekadar performa. Media sosial dipenuhi aktivitas yang tampak produktif, tetapi sering kali didorong oleh kebutuhan akan pengakuan, popularitas, dan algoritma. Orang berbicara bukan untuk membangun dialog, melainkan untuk memperoleh perhatian. Bertindak bukan demi kebaikan bersama, tetapi demi engagement. Dalam situasi seperti itu, tindakan kehilangan orientasi etiknya.

Di sinilah muncul kebutuhan untuk melangkah lebih jauh, bukan hanya dari epistemologi menuju ontologi, tetapi juga menuju aksiologi. Jika Cogito menjawab pertanyaan bagaimana manusia mengetahui dirinya, dan action menjelaskan bagaimana manusia hadir di dunia, maka masih tersisa satu pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa manusia ada? Jawaban atas pertanyaan itulah yang dapat dirumuskan dalam sebuah paradigma baru:  Amare, ergo sum—Aku mencinta, maka aku ada (Ja’far 2026).

Cinta bukan sekadar emosi atau afeksi, melainkan bentuk eksistensi yang paling utuh. Dalam mencintai, manusia tidak hanya mengetahui yang lain sebagaimana dijelaskan Husserl, juga tidak hanya bertindak bersama yang lain sebagaimana dijelaskan Arendt. Manusia memasuki relasi yang mengakui martabat orang lain sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Martin Buber menyebut relasi ini sebagai hubungan I–Thou, relasi antarsubjek yang dibangun atas dasar pengakuan, penghormatan, dan kehadiran yang autentik (Buber [1923] 1970, 62–75). Dalam relasi semacam ini, manusia menemukan dirinya justru ketika ia keluar dari egoisme dan membuka diri kepada sesama.

Paradigma Amare Ergo Sum menjadi semakin relevan pada era digital. Algoritma media sosial mendorong manusia untuk terus membangun citra diri, mengumpulkan pengikut, dan mengejar validasi sosial. Nilai seseorang perlahan diukur melalui jumlah likes, followers, atau tingkat keterlibatan digital. Akibatnya, relasi antarmanusia mudah berubah menjadi relasi instrumental. Orang lain dipandang sebagai audiens, pasar, atau bahkan sekadar data yang dapat dimonetisasi. Di tengah budaya seperti ini, Amare Ergo Sum menawarkan kritik yang mendasar. Eksistensi manusia tidak diukur oleh seberapa banyak perhatian yang berhasil ia kumpulkan, tetapi oleh seberapa dalam ia mampu mencintai dan menghadirkan dirinya bagi orang lain.

Lebih jauh lagi, cinta yang dimaksud tidak berhenti pada hubungan antarmanusia. Dalam tradisi spiritual, cinta menemukan puncaknya ketika mengarah kepada Yang Transenden. Tradisi tasawuf mengenal pengalaman fana’, yaitu meleburkan ego dalam cinta kepada Allah sehingga seluruh relasi dengan sesama berakar pada kesadaran akan kehadiran Tuhan. Dengan demikian, mencintai sesama bukan sekadar tindakan moral, melainkan juga bentuk penghambaan. Semakin seseorang mencintai Tuhan, semakin ia mampu memanusiakan manusia.

Karena itu, perjalanan filsafat modern dapat dipahami sebagai perjalanan menuju eksistensi yang semakin utuh. Descartes mengajarkan bahwa manusia berpikir. Husserl menunjukkan bahwa manusia selalu terbuka kepada dunia. Arendt menegaskan bahwa manusia mewujudkan dirinya melalui tindakan bersama. Namun, semuanya menemukan kesempurnaannya ketika cinta menjadi orientasi pengetahuan dan tindakan. Pengetahuan tanpa cinta mudah berubah menjadi dominasi. Tindakan tanpa cinta dapat menjelma menjadi kekuasaan. Bahkan teknologi tanpa cinta dapat berkembang menjadi alat yang mengasingkan manusia dari sesamanya.

Peradaban digital hari ini tidak kekurangan kecerdasan. Yang semakin langka justru kemampuan untuk hadir, mendengar, peduli, dan mencintai. Mungkin karena itu, masa depan kemanusiaan tidak lagi cukup dirumuskan melalui semboyan Cogito, ergo sum. Dunia yang semakin kompleks membutuhkan paradigma baru yang menempatkan relasi sebagai pusat eksistensi. Sebab pada akhirnya, bukti paling otentik bahwa manusia benar-benar ada bukanlah ketika ia mampu berpikir lebih cepat daripada mesin, melainkan ketika ia tetap mampu mencintai di tengah dunia yang semakin mekanis.

Amare, ergo sum.

Referensi

Arendt, Hannah. 1958. The Human Condition. Chicago: University of Chicago Press.

Buber, Martin. (1923) 1970. I and Thou. Translated by Walter Kaufmann. New York: Charles Scribner’s Sons.

Descartes, René. (1641) 1996. Meditations on First Philosophy. Translated by John Cottingham. Cambridge: Cambridge University Press.

Husserl, Edmund. (1913) 1931. Ideas: General Introduction to Pure Phenomenology. Translated by W. R. Boyce Gibson. London: George Allen & Unwin.

Ja’far, Suhermanto. 2024a. “Cogito Cogita (Aku Ada Karena Ada Yang Lain).” uinsa.ac.id, May 20

Ja’far, Suhermanto. 2024b. “Cogito Ergosum Aku Berpikir Maka Aku Ada.” uinsa.ac.id, May 13

Ja’far, Suhermanto. 2026. “Amare Ergo Sum Sebagai Orientasi Baru Perjuangan DNIKS: Menuju Masa Depan Kesejahteraan Indonesia.” eLKAF, July 8. https://elkaf.id/blog/amare-ergo-sum-sebagai-orientasi-baru-perjuangan-dniks-menuju-masa-depan-kesejahteraan-indonesia/. Taylor, Charles. 1989. Sources of the Self: The Making of the Modern Identity. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top