
Amalia Ramadani Sanjaya
Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Di era digital seperti sekarang, hampir semua orang hidup dalam satu kebiasaan yang sama: scroll tanpa henti. Bangun tidur, tangan langsung meraih ponsel. Sebelum tidur, layar kembali menjadi teman terakhir. Dalam satu hari, kita bisa melihat ratusan bahkan ribuan informasi mulai dari berita, opini, hiburan, hingga pengetahuan. Semua terasa begitu dekat dan mudah dijangkau, seolah dunia berada dalam genggaman. Sekilas, kondisi ini tampak sebagai kemajuan besar. Informasi menjadi lebih cepat diakses, pengetahuan lebih mudah didapatkan, dan siapa pun bisa berbicara di ruang digital. Namun di balik kemudahan itu, ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian: apa yang kita lihat sebenarnya tidak sepenuhnya kita pilih. Ada sistem yang bekerja diam-diam di balik layar, menyaring dan menentukan apa yang muncul di hadapan kita. Sistem itu adalah algoritma.
Algoritma tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis untuk mengatur informasi. Lebih dari itu, ia ikut membentuk cara kita memahami dunia. Apa yang sering muncul akan terasa penting, dan apa yang jarang terlihat perlahan dianggap tidak ada. Dalam situasi seperti ini, kebenaran tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa valid suatu informasi, tetapi juga oleh seberapa sering informasi itu muncul. Dulu, pengetahuan dianggap sah jika melalui proses ilmiah yang jelas ada penelitian, pengujian, dan diskusi akademik. Ilmuwan dan institusi pendidikan menjadi rujukan utama dalam menentukan kebenaran. Namun sekarang, peran tersebut mulai bergeser. Banyak orang lebih percaya pada informasi yang viral di media sosial dibandingkan hasil penelitian yang membutuhkan waktu lama untuk dipahami. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan besar dalam cara kita memandang pengetahuan. Kebenaran kini sering kali diukur dari popularitas, bukan dari keakuratan.
Masalahnya, algoritma yang mengatur aliran informasi ini tidak pernah benar-benar netral. Ia bekerja berdasarkan data, sementara data itu sendiri berasal dari realitas sosial yang sudah penuh dengan ketimpangan. Ketika kehidupan sehari-hari yang tidak seimbang ini diubah menjadi data, maka bias yang ada di dalamnya ikut terbawa. Algoritma kemudian mempelajari pola dari data tersebut dan menggunakannya untuk menentukan apa yang dianggap penting. Dalam proses ini, kelompok yang lebih sering muncul dalam data akan semakin diutamakan. Sebaliknya, kelompok yang jarang terwakili akan semakin tersisih. Tanpa disadari, algoritma tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga memperkuat ketimpangan yang sudah ada. Inilah yang membuat bias dalam sistem digital menjadi begitu berbahaya karena ia bekerja secara halus dan sering kali tidak terlihat.
Di media sosial, misalnya, algoritma cenderung menampilkan konten yang memiliki banyak interaksi. Konten yang sering disukai, dikomentari, atau dibagikan akan terus muncul di beranda pengguna. Sementara itu, konten yang tidak mendapatkan banyak perhatian akan tenggelam. Sekilas, mekanisme ini terlihat wajar. Namun jika dilihat lebih dalam, sistem ini bisa menciptakan ketimpangan dalam visibilitas. Kelompok yang sudah memiliki banyak pengikut akan semakin mudah dikenal, sementara kelompok yang tidak memiliki akses atau jaringan yang sama akan semakin sulit terlihat. Lama-kelamaan, perbedaan ini menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Suara tertentu menjadi dominan, sementara suara lainnya perlahan menghilang. Padahal, suara yang jarang terdengar sering kali membawa perspektif yang penting untuk memahami realitas secara lebih utuh.
Selain itu, algoritma juga berperan dalam membentuk cara kita berpikir melalui fenomena yang dikenal sebagai echo chamber. Kita cenderung melihat konten yang sesuai dengan minat dan pandangan kita sendiri. Semakin sering kita berinteraksi dengan suatu jenis konten, semakin banyak konten serupa yang akan ditampilkan. Akibatnya, kita jarang terpapar pada sudut pandang yang berbeda. Dalam kondisi seperti ini, kita bisa merasa bahwa apa yang kita lihat adalah satu-satunya kebenaran. Perbedaan pendapat menjadi sulit diterima, dan diskusi berubah menjadi perdebatan yang tidak sehat. Masyarakat menjadi lebih mudah terpolarisasi, dan ruang dialog yang seharusnya terbuka justru menjadi sempit.

