
M. Torif Mumtaz Ali
Agama di Tengah Perubahan Teknologi Digital
Perkembangan teknologi digital saat ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam kehidupan beragama. Kalau dulu seseorang ingin belajar agama harus datang langsung ke masjid, gereja, vihara, pesantren, atau tempat ibadah lainnya, sekarang banyak hal yang bisa dilakukan melalui internet. Kita dapat menonton ceramah, membaca artikel keagamaan, mengikuti kajian secara online, bahkan bergabung dengan komunitas keagamaan tanpa harus bertemu secara langsung. Menurut saya, perubahan ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari karena teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, dari perubahan tersebut muncul pertanyaan: apakah penggunaan teknologi digital membuat seseorang menjadi lebih dekat dengan agamanya? Menurut saya, jawabannya bisa iya, tetapi juga bisa tidak. Teknologi memang memberikan kemudahan untuk mendapatkan pengetahuan agama, tetapi bagaimana seseorang menggunakan informasi tersebut tetap menjadi hal yang penting. Internet hanya menyediakan ruang dan informasi, sedangkan pemahaman terhadap agama tetap membutuhkan proses belajar dan pertimbangan. Artikel tentang Religion Online dan Online Religion dalam Transformasi Praktik Keagamaan di Era Digital menurut saya menarik karena menunjukkan bahwa hubungan antara agama dan teknologi bukan hanya tentang memindahkan kegiatan agama ke internet. Ada perubahan yang lebih luas, yaitu perubahan cara seseorang memperoleh pengetahuan agama, berinteraksi dengan tokoh agama, menjalankan praktik keagamaan, dan mengalami kehidupan beragama.
Kemudahan Belajar Agama melalui Internet
Salah satu perubahan yang paling mudah kita lihat adalah cara seseorang mendapatkan pengetahuan agama. Sekarang ketika ingin mengetahui suatu persoalan agama, kita bisa langsung mencarinya melalui Google, YouTube, TikTok, Instagram, atau media lainnya. Bahkan ketika sedang memiliki pertanyaan tentang agama, seseorang tidak harus selalu menunggu sampai bertemu guru atau ustaz. Informasi dapat ditemukan hanya dengan menggunakan telepon genggam.
Menurut saya, hal ini merupakan salah satu sisi positif dari perkembangan digital. Orang yang sebelumnya kesulitan mendapatkan akses terhadap kajian agama sekarang memiliki lebih banyak pilihan. Seseorang yang tinggal jauh dari tempat pengajian juga tetap bisa mendengarkan ceramah atau mengikuti pembelajaran agama secara online. Tetapi, apakah semua informasi agama yang ditemukan di internet dapat dipercaya? Menurut saya, tentu tidak. Inilah salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Banyaknya informasi tidak selalu berarti semakin baik. Justru semakin banyak informasi yang tersedia, seseorang harus semakin hati-hati dalam memilih sumber.
Misalnya, seseorang melihat video ceramah berdurasi satu menit di media sosial. Karena videonya menarik dan banyak yang menyukai, bukan berarti isi ceramah tersebut pasti benar. Bisa saja video tersebut merupakan potongan dari pembicaraan yang lebih panjang sehingga konteksnya berbeda. Kalau seseorang langsung mempercayai informasi tersebut tanpa mencari penjelasan lebih lanjut, bisa terjadi kesalahpahaman. enurut saya, Kerena itu kemampuan untuk memilih dan memeriksa sumber menjadi sangat penting dalam kehidupan beragama di era digital. Kita tidak seharusnya hanya bertanya, “Apa yang dikatakan dalam video ini?”, tetapi juga perlu bertanya, “Siapa yang menyampaikan?”, “Dari mana sumbernya?”, dan “Apakah penjelasannya sesuai dengan konteks yang sebenarnya?”
Apakah Media Sosial Bisa Menggantikan Guru Agama?
Perubahan digital juga membuat hubungan antara masyarakat dengan tokoh agama menjadi berbeda. Dulu interaksi dengan tokoh agama biasanya terjadi secara langsung. Seseorang datang ke pengajian, bertemu ustaz, kemudian bertanya secara langsung. Sekarang interaksi tersebut dapat dilakukan melalui komentar, pesan, siaran langsung, atau forum di media sosial. Menurut saya, hal ini membuat hubungan antara tokoh agama dan masyarakat menjadi lebih terbuka. Masyarakat bisa mengikuti pemikiran seorang tokoh agama dari berbagai tempat tanpa harus berada di tempat yang sama. Tokoh agama juga dapat menyampaikan pesan kepada lebih banyak orang dalam waktu yang lebih cepat.
Namun, apakah media sosial dapat sepenuhnya menggantikan guru atau tokoh agama secara langsung? Saya pribadi merasa belum tentu. Belajar melalui media digital memang praktis, tetapi belajar agama tidak hanya membutuhkan informasi. Terkadang kita membutuhkan penjelasan yang lebih mendalam, kesempatan untuk bertanya, dan bimbingan ketika menemukan persoalan yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui video pendek. Menurut saya, media digital sebaiknya menjadi alat untuk membantu proses belajar, bukan menjadi satu-satunya sumber pengetahuan agama. Seseorang dapat menggunakan internet untuk mencari informasi awal, kemudian memperdalamnya melalui guru, tokoh agama, buku, atau sumber yang dapat dipercaya.
Religion Online dan Online Religion
Dari artikel tersebut, saya memahami bahwa Religion Online dan Online Religion memiliki hubungan yang cukup dekat, tetapi tidak sepenuhnya sama. Religion Online lebih berkaitan dengan keberadaan informasi dan penyebaran pengetahuan agama melalui internet. Sementara itu, Online Religion lebih menunjukkan bagaimana kegiatan, pengalaman, dan interaksi keagamaan dilakukan dalam ruang digital. Menurut saya, perbedaan ini dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menonton ceramah di YouTube untuk mendapatkan pengetahuan agama, hal tersebut dapat dilihat sebagai bentuk Religion Online. Sedangkan ketika seseorang mengikuti kegiatan keagamaan secara virtual, berdiskusi dalam komunitas keagamaan di internet, atau melakukan aktivitas keagamaan melalui ruang digital, hal tersebut lebih menunjukkan Online Religion.
Tetapi dalam kenyataannya, batas antara keduanya tidak selalu jelas. Seseorang bisa saja awalnya hanya mencari informasi agama di internet, kemudian mengikuti komunitas online, berdiskusi dengan orang lain, dan akhirnya menjadikan aktivitas digital tersebut sebagai bagian dari kehidupan beragamanya. Menurut saya, hal inilah yang menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya menjadi tempat untuk mencari informasi, tetapi juga menjadi ruang baru bagi seseorang untuk menjalani kehidupan sosial dan keagamaannya.
Apakah Praktik Keagamaan Online Sama dengan Praktik Secara Langsung?
Pertanyaan lain yang menurut saya penting adalah apakah pengalaman keagamaan secara online sama dengan pengalaman keagamaan secara langsung. Jawabannya menurut saya tidak selalu sama. Kegiatan keagamaan melalui internet memang memberikan kemudahan. Kita dapat mengikuti kajian dari rumah, mengikuti kegiatan keagamaan ketika sedang berada jauh dari tempat ibadah, dan tetap terhubung dengan komunitas meskipun tidak berada di tempat yang sama.
Namun, pengalaman bertemu langsung dengan orang lain juga memiliki nilai tersendiri. Ketika seseorang datang ke tempat ibadah atau mengikuti kegiatan keagamaan bersama masyarakat, ada interaksi sosial yang tidak selalu bisa digantikan oleh layar. Ada komunikasi langsung, kebersamaan, dan rasa menjadi bagian dari kelompok. Karena itu, saya melihat bahwa kegiatan online dan offline sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Keduanya bisa saling melengkapi. Internet dapat digunakan ketika seseorang membutuhkan kemudahan dan fleksibilitas, sedangkan kegiatan langsung tetap penting untuk membangun hubungan sosial dan pengalaman keagamaan secara nyata.
Pandangan Saya terhadap Masa Depan Praktik Keagamaan
Setelah melihat berbagai perubahan tersebut, saya berpikir bahwa praktik keagamaan di masa depan kemungkinan akan semakin berhubungan dengan teknologi. Hal ini bukan berarti kegiatan keagamaan secara langsung akan hilang. Justru kemungkinan besar keduanya akan berjalan bersama. Seseorang bisa saja belajar melalui YouTube pada pagi hari, berdiskusi dalam grup keagamaan pada siang hari, kemudian mengikuti kegiatan keagamaan secara langsung pada malam hari. Artinya, kehidupan agama seseorang tidak hanya berada di dunia nyata atau dunia digital saja, tetapi berada di antara keduanya.
Menurut saya perkembangan ini sebenarnya dapat memberikan banyak manfaat jika digunakan dengan bijak. Yang perlu diubah bukan agamanya, tetapi cara kita memanfaatkan teknologi untuk mendukung kehidupan beragama. Teknologi juga seharusnya tidak membuat seseorang merasa bahwa semua jawaban agama dapat ditemukan hanya dengan mengetik di mesin pencari. Ada persoalan agama yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam dan bimbingan dari orang yang memiliki pengetahuan yang memadai.
Kesimpulan
Menurut saya, Religion Online dan Online Religion menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan dalam kehidupan beragama. Perubahan tersebut dapat dilihat dari cara seseorang mendapatkan pengetahuan agama, mengikuti kegiatan keagamaan, berinteraksi dengan tokoh agama, serta membangun komunitas keagamaan. Saya melihat perubahan ini bukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya positif atau negatif. Semuanya tergantung pada bagaimana teknologi digunakan. Internet dapat mempermudah seseorang dalam belajar agama, tetapi juga dapat menimbulkan masalah ketika informasi diterima tanpa diperiksa terlebih dahulu.
Karena itu, menurut saya, kehidupan beragama di era digital membutuhkan sikap yang lebih kritis dan bijak. Kita perlu memanfaatkan teknologi untuk mendapatkan pengetahuan dan memperluas hubungan sosial, tetapi tetap mempertahankan pentingnya belajar secara langsung dan berinteraksi dengan orang yang dapat memberikan bimbingan yang tepat. Pada Akhirnya agama dan teknologi tidak harus dipisahkan. Keduanya dapat berjalan bersama selama teknologi digunakan sebagai sarana untuk membantu manusia memahami dan menjalankan kehidupan beragama, bukan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Kehidupan beragama secara online dan offline sebaiknya saling melengkapi sehingga perkembangan teknologi justru dapat memberikan manfaat bagi kehidupan keagamaan masyarakat.
Daftar Pustaka
Alrissa, Ratu Syifa, Yunus Winoto, dan Ute Lies Siti Khadijah. “DIGITAL RELIGION AND VIRTUAL COMMUNITIES: A BIBLIOMETRIC REVIEW OF ONLINE RELIGIOUS PRACTICES.” Al-Balagh: Jurnal Dakwah dan Komunikasi 10, no. 1 (2025): 119–48.
Aunul, Sofia, dan Daniel Handoko. “Digital religion: How digital immigrants access religious content during pandemic.” Islamic Communication Journal 7, no. 1 (2022): 77–88.
Himam, Mohammad Muafi, Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Dina, dan Muhaddibul Irfani. “Shifting Authority, Shaping Spirituality: A Qualitative Digital Survey of Religious Practices among the Indonesian Muslim Students.” Jurnal SMaRT 11, no. 2 (2025): 243–56.
Hanifah Abu. (2025).“Tokoh Agama terhadap Perubahan Sosial dan Budaya pada Masyarakat”. Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial, dan Sains.13,( 2). DOI:https://doi.org/10.19109/intelektualita.v13i2.25955. Sitorus, Kristina, Imron Hadi Tamim, dan Wahyu Budi Nugroho. “PRAKTIK KEAGAMAAN DIGITAL (DIGITAL RELIGION) PADA JEMAAT GEREJA KRISTEN KUDUS INDONESIA RUMAH DOA HOSANA (GKKI RDH) KOTA DENPASAR.” Jurnal Ilmiah Sosiologi: SOROT (JISSOROT) 4, no. 1 (2024): 1–10.
Sitorus, Kristina, Imron Hadi Tamim, dan Wahyu Budi Nugroho. “PRAKTIK KEAGAMAAN DIGITAL (DIGITAL RELIGION) PADA JEMAAT GEREJA KRISTEN KUDUS INDONESIA RUMAH DOA HOSANA (GKKI RDH) KOTA DENPASAR.” Jurnal Ilmiah Sosiologi: SOROT (JISSOROT) 4, no. 1 (2024): 1–10.
Qur’any, Raushanfikr. “Studi Literatur Rekonfigurasi Praktik Keagamaan Generasi Z di Ruang Digital dalam Perspektif Antropologi Agama.” Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia 6, no. 7 (2026): 2587–94.
Yahya, Imam, Muhammad Aflahmuna, Rokhmadi, dan Ferry Khusnul Mubarok. “Shifting Religious Practices: The Impact of Digitalization on Islamic Rituals in Indonesian Pesantren.” Indonesian Journal of Islamic Literature and Muslim Society 9, no. 2 (2024): 84–114.

