
Bagus Farih Hidayatullah
Mahasiswa AFI Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam cara manusia mengakses dan memahami informasi. Internet dan media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang utama tempat masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai berbagai peristiwa sosial, politik, dan budaya. Dalam konteks ini, banyak individu menjadikan platform digital sebagai sumber utama dalam mencari jawaban atas berbagai persoalan sehari-hari.
Namun, kemudahan akses informasi tersebut juga membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Informasi yang muncul di hadapan pengguna internet tidak sepenuhnya bersifat netral atau muncul secara acak. Sebaliknya, informasi tersebut diatur oleh sistem algoritma yang bekerja di balik platform digital untuk menentukan konten apa yang akan ditampilkan kepada pengguna. Algoritma ini menganalisis berbagai data perilaku pengguna—seperti riwayat pencarian, interaksi, serta preferensi konten—untuk memprediksi informasi yang dianggap paling relevan bagi mereka.[1]
Dalam praktiknya, sistem algoritma tersebut tidak selalu memprioritaskan kebenaran informasi sebagai tujuan utama. Banyak platform digital justru merancang algoritma mereka untuk meningkatkan keterlibatan pengguna (engagement) dan mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin di dalam platform. Akibatnya, konten yang bersifat sensasional, emosional, atau kontroversial sering kali lebih mudah muncul dan menyebar dibandingkan informasi yang faktual tetapi kurang menarik secara emosional.[2]
Ketergantungan masyarakat terhadap platform digital sebagai sumber utama informasi pada akhirnya menimbulkan persoalan epistemologis yang serius. Ketika individu semakin bergantung pada sistem algoritma dalam menentukan informasi yang mereka lihat dan konsumsi, maka secara tidak langsung otoritas dalam menentukan apa yang dianggap benar atau relevan juga berpindah dari manusia kepada sistem teknologi. Dalam kondisi seperti ini, algoritma tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat bantu teknis, tetapi mulai berperan sebagai mediator utama dalam pembentukan pengetahuan publik.[3]
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana masyarakat seharusnya memahami dan menyikapi peran algoritma dalam ekosistem informasi digital. Ketika platform digital memiliki kemampuan besar untuk menentukan informasi apa yang terlihat dan apa yang tersembunyi, maka ketergantungan yang berlebihan terhadap sistem tersebut berpotensi mengaburkan batas antara pengetahuan yang benar dengan informasi yang sekadar populer atau viral.
Algoritma sebagai Penjaga Gerbang Informasi
Dalam ekosistem digital kontemporer, algoritma tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat teknis untuk mengatur data, melainkan telah menjadi mekanisme utama yang menentukan distribusi informasi di ruang publik. Platform digital seperti mesin pencari dan media sosial menggunakan sistem algoritmik untuk menyaring, mengurutkan, dan menampilkan informasi yang dianggap paling relevan bagi setiap pengguna. Dengan kata lain, algoritma berperan sebagai penjaga gerbang (gatekeeper) baru yang menentukan informasi mana yang terlihat dan mana yang tersembunyi dalam ruang digital.
Perubahan ini menandai pergeseran yang signifikan dari model distribusi informasi sebelumnya. Pada masa lalu, media massa dan institusi akademik memiliki peran penting dalam menyaring informasi melalui proses editorial dan verifikasi. Namun dalam ekosistem digital, proses tersebut sebagian besar digantikan oleh sistem otomatis yang bekerja berdasarkan analisis data pengguna. Akibatnya, visibilitas suatu informasi sering kali lebih dipengaruhi oleh pola interaksi pengguna dibandingkan oleh kualitas epistemik informasi tersebut.[4]
Ketergantungan Informasi dan Delegasi Pengetahuan
Kemudahan akses informasi yang disediakan oleh platform digital mendorong masyarakat untuk semakin bergantung pada sistem teknologi dalam memperoleh pengetahuan. Banyak pengguna internet secara otomatis menerima informasi yang muncul di linimasa media sosial atau halaman pencarian sebagai sumber pengetahuan tanpa melakukan proses verifikasi yang memadai.
Fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk delegasi epistemik, yaitu kondisi ketika individu menyerahkan sebagian proses pencarian dan evaluasi pengetahuan kepada sistem teknologi. Dalam konteks ini, algoritma secara tidak langsung mengambil alih sebagian peran kognitif manusia dalam menentukan informasi yang dianggap relevan atau penting. Meskipun sistem tersebut mampu memproses data dalam skala yang sangat besar, ketergantungan yang berlebihan terhadap algoritma berpotensi melemahkan kemampuan kritis pengguna dalam mengevaluasi informasi secara mandiri.[5]
Ketika individu semakin mengandalkan sistem teknologi untuk menentukan informasi yang mereka konsumsi, maka struktur pembentukan pengetahuan dalam masyarakat juga mengalami perubahan. Pengetahuan tidak lagi sepenuhnya dihasilkan melalui proses refleksi rasional atau diskusi kritis, melainkan semakin dipengaruhi oleh mekanisme rekomendasi algoritmik yang bekerja secara otomatis di balik platform digital.
Risiko Sosial: Filter Bubble dan Disinformasi
Salah satu dampak penting dari dominasi algoritma dalam distribusi informasi adalah munculnya fenomena filter bubble. Fenomena ini terjadi ketika algoritma personalisasi secara terus-menerus menampilkan informasi yang sesuai dengan preferensi dan keyakinan pengguna. Akibatnya, pengguna cenderung lebih sering terpapar pada pandangan yang sejalan dengan opini mereka sendiri dan jarang menemukan perspektif yang berbeda.
Kondisi tersebut dapat mempersempit cakrawala informasi yang diterima oleh pengguna dan menghambat proses dialog yang sehat dalam masyarakat. Ketika individu hanya terpapar pada informasi yang mendukung keyakinan mereka, maka potensi untuk mengembangkan pemahaman yang lebih luas menjadi semakin terbatas. Dalam jangka panjang, fenomena ini dapat memperkuat polarisasi sosial dan memperlemah kualitas diskursus publik.[6]
Selain itu, sistem distribusi informasi yang berorientasi pada keterlibatan pengguna juga menciptakan kondisi yang rentan terhadap penyebaran disinformasi. Informasi yang sensasional atau kontroversial sering kali lebih mudah menarik perhatian pengguna dan menyebar dengan cepat melalui media sosial. Dalam situasi seperti ini, kecepatan penyebaran informasi sering kali melampaui kemampuan masyarakat untuk melakukan verifikasi terhadap kebenaran informasi tersebut.
Oleh karena itu, dominasi algoritma dalam ekosistem informasi digital tidak hanya membawa kemudahan dalam mengakses pengetahuan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat dalam mempertahankan kualitas kebenaran informasi. Tanpa adanya kesadaran kritis terhadap cara kerja sistem algoritma, masyarakat berpotensi semakin bergantung pada mekanisme teknologi yang tidak selalu dirancang untuk memprioritaskan kebenaran informasi.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia memperoleh dan memahami informasi. Algoritma yang digunakan oleh berbagai platform digital tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis untuk mengelola data, tetapi juga berperan dalam menentukan informasi apa yang muncul dan dikonsumsi oleh pengguna. Dalam situasi ini, algoritma secara tidak langsung menjadi mediator utama dalam proses pembentukan pengetahuan di ruang publik.
Ketergantungan masyarakat terhadap platform digital sebagai sumber informasi utama menimbulkan persoalan epistemologis yang tidak sederhana. Ketika individu semakin mengandalkan sistem algoritma untuk menyaring dan menentukan informasi yang mereka lihat, maka sebagian proses penilaian terhadap kebenaran informasi juga ikut dialihkan kepada sistem teknologi tersebut. Kondisi ini berpotensi melemahkan kemampuan kritis masyarakat dalam menilai validitas suatu informasi secara mandiri.
Selain itu, mekanisme personalisasi algoritma juga dapat mendorong munculnya fenomena filter bubble, yaitu kondisi ketika pengguna lebih sering terpapar pada informasi yang sesuai dengan preferensi atau keyakinan mereka sendiri. Akibatnya, ruang diskursus publik menjadi semakin sempit karena individu jarang menemukan perspektif yang berbeda dari pandangan mereka. Dalam jangka panjang, situasi ini dapat memperkuat polarisasi sosial serta memperburuk penyebaran disinformasi di masyarakat.
Oleh karena itu, kesadaran kritis terhadap cara kerja algoritma menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi ekosistem informasi digital saat ini. Masyarakat tidak dapat sepenuhnya menyerahkan proses pencarian dan penilaian pengetahuan kepada sistem teknologi. Sebaliknya, pengguna internet perlu tetap mempertahankan sikap reflektif dan kritis dalam menilai informasi yang mereka terima, sehingga ruang digital dapat tetap menjadi sarana yang mendukung pertukaran pengetahuan yang rasional dan bertanggung jawab.
Referensi
Alvin I. Goldman, Knowledge in a Social World (Oxford: Oxford University Press, 1999).
Eli Pariser, The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You (New York: Penguin Press, 2011).
Luciano Floridi, The Philosophy of Information (Oxford: Oxford University Press, 2011).
Mark Coeckelbergh, The Political Philosophy of AI: An Introduction (Cambridge: Polity Press, 2021).
Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power (New York: PublicAffairs, 2019).
Tarleton Gillespie, Custodians of the Internet: Platforms, Content Moderation, and the Hidden Decisions That Shape Social Media (New Haven: Yale University Press, 2018).
[1] Luciano Floridi, The Philosophy of Information (Oxford: Oxford University Press, 2011).
[2] Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power (New York: PublicAffairs, 2019).
[3] Mark Coeckelbergh, The Political Philosophy of AI: An Introduction (Cambridge: Polity Press, 2021).
[4] Tarleton Gillespie, Custodians of the Internet: Platforms, Content Moderation, and the Hidden Decisions That Shape Social Media (New Haven: Yale University Press, 2018).
[5] Alvin I. Goldman, Knowledge in a Social World (Oxford: Oxford University Press, 1999).
[6] Eli Pariser, The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You (New York: Penguin Press, 2011).

