
Suhermanto Ja’far
Dosen Filsafat Digital Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Kejatuhan eksistensial manusia modern sering kali tidak disadari, justru karena ia berlangsung dalam keseharian yang tampak normal. Interaksi antar manusia semakin didasarkan pada relasi kepentingan yang bersifat transaksional, di mana yang lain tidak lagi hadir sebagai subjek, melainkan sebagai objek yang dapat dimanfaatkan. Dalam situasi ini, relasi yang terbentuk adalah “Aku” dan “itu” (I-It), bukan “Aku” dan “Engkau” (I-Thou) sebagaimana dikritik oleh Martin Buber (Buber 1970, 62–64).
Relasi I-It menandai krisis eksistensi karena manusia kehilangan dimensi dialogisnya. Yang lain tidak lagi dipahami sebagai kehadiran yang utuh, melainkan sebagai instrumen. Bahkan dalam kerangka materialisme historis, relasi ini mengeras menjadi pola dominasi “tuan-budak”, di mana struktur sosial membentuk hubungan yang timpang dan eksploitatif (Marx 1976, 272–274). Relasi sosial pun kehilangan sifat emansipatorisnya.
Dalam dunia keseharian, pola relasi seperti ini secara perlahan menggerus ruang otonomi manusia. Manusia tidak lagi bebas dalam memaknai dirinya, karena kesadarannya telah terjebak dalam sistem relasi yang instrumental. Bahasa, komunikasi, dan interaksi sosial menjadi medium reproduksi kekuasaan, bukan ruang pembebasan (Habermas 1984, 286–288).
Akibatnya, manusia semakin jauh dari pemahaman mendalam tentang “ada dan peristiwa”. Dalam horizon filsafat kontemporer, “ada” (being) tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu hadir dalam “peristiwa” (event) yang mempertemukannya dengan dunia (Heidegger 1962, 174–176). Namun ketika relasi sosial tereduksi menjadi transaksi, pengalaman eksistensial ini kehilangan kedalamannya.
“Ada dan peristiwa” seharusnya menjadi ruang meditasi eksistensial, di mana manusia menyadari keberadaannya sekaligus keterlibatannya dalam dunia sosial. Dalam kesadaran ini, manusia tidak hanya “hidup”, tetapi juga “mengalami hidup” sebagai proses refleksi yang terus-menerus. Kesadaran diri, kesadaran akan yang lain, dan kesadaran akan Yang Transenden bertemu dalam satu pengalaman eksistensial yang utuh. Dalam kerangka Being and Event, peristiwa (event) bukan sekadar pengalaman eksistensial, melainkan momen ruptur yang melampaui struktur keberadaan dan membuka kemungkinan kebenaran baru (Badiou 2005, 179–181)
Namun dalam realitas modern, kesadaran ini sering kali terputus. Kehidupan dijalani secara mekanistik, tanpa refleksi yang mendalam. Di sinilah pentingnya pendakian spiritual sebagai upaya mengembalikan manusia pada kesadaran dirinya yang otentik. Spiritualitas bukan sekadar ritual, tetapi proses transformasi eksistensial (Nasr 2007, 121–123).
Momentum Ramadan menghadirkan ruang reflektif yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam detik-detik terakhirnya, manusia seakan dihadapkan kembali pada dimensi terdalam eksistensinya. Ritual yang dijalankan bukan sekadar praktik formal, tetapi menjadi medium untuk menyambungkan kembali relasi manusia dengan dirinya, dengan sesama, dan dengan Tuhan.
Dalam perspektif ini, kehidupan spiritual dapat dianalogikan sebagai sistem “byte” yang terus aktif (on), mengalir dalam setiap tindakan manusia. Setiap perilaku sehari-hari memperoleh makna spiritual ketika disadari sebagai bagian dari pengabdian. Namun persoalannya, setelah Ramadan, sistem ini sering kali kembali “off”, dan manusia kembali terjebak dalam rutinitas tanpa kesadaran.
Padahal, tujuan utama dari ritual Ramadan adalah menciptakan kesinambungan antara kesadaran spiritual dan kehidupan sosial. Spiritualitas tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi harus terwujud dalam relasi sosial yang lebih manusiawi—relasi yang kembali pada I-Thou, bukan I-It.
Dalam kerangka ini, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momen refleksi eksistensial. Ia menjadi titik balik menuju kesucian primordial manusia sebagai homo sapiental, makhluk yang tidak hanya berpikir, tetapi juga menyadari makna keberadaannya. Kesucian ini bukan kondisi statis, melainkan proses yang terus diperjuangkan (Eliade 1959, 35–37).
Pernyataan bahwa tidak perlu meminta maaf dan hanya memberi maaf dapat dibaca sebagai refleksi eksistensial yang melampaui relasi transaksional. Dalam perspektif ini, memaafkan bukan lagi tindakan sosial semata, tetapi ekspresi kesadaran kosmis bahwa manusia berada dalam jaringan keberadaan yang saling terhubung. Namun, kesadaran ini tetap membutuhkan kerendahan hati agar tidak terjebak dalam absolutisme diri.
Pada akhirnya, yang perlu dilakukan adalah membaca ulang “sinyal eksistensial” kita—mencari di mana relasi kita terputus, di mana kesadaran kita melemah, dan di mana spiritualitas kita menjadi sekadar formalitas. Jika ada “byte” yang naik-turun atau tidak tersambung, maka tugas manusia adalah memperbaikinya. Idul Fitri menjadi pengingat bahwa kesucian bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan eksistensial yang lebih otentik dan berkelanjutan.
Referensi
Badiou, Alain. 2005. Being and Event. Translated by Oliver Feltham. London: Continuum.
Buber, Martin. 1970. I and Thou. New York: Scribner.
Eliade, Mircea. 1959. The Sacred and the Profane. New York: Harcourt.
Habermas, Jürgen. 1984. The Theory of Communicative Action. Boston: Beacon Press.
Heidegger, Martin. 1962. Being and Time. New York: Harper & Row.
Marx, Karl. 1976. Capital: Volume I. London: Penguin.
Nasr, Seyyed Hossein. 2007. The Garden of Truth. New York: HarperOne.

