(Neurosains, Kesadaran, dan Makna Perjalanan Transenden Nabi)

Suhermanto Ja’far
Dosen Filsafat Digital Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA Surabaya
Peristiwa Isra’ Mi‘raj selalu menempati posisi unik dalam teologi Islam. Al-Qur’an membuka kisah ini dengan penegasan yang sangat kuat: “Subḥāna alladhī asrā bi-ʿabdihī laylan”—“Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam” (QS. al-Isrā’ [17]:1). Kata ʿabd di sini menjadi kunci. Mayoritas ulama Sunni menegaskan bahwa istilah tersebut menunjuk pada Nabi Muhammad ﷺ sebagai manusia seutuhnya—ruh dan jasad—bukan pengalaman mimpi, bukan visi simbolik belaka, melainkan peristiwa nyata atas kehendak Allah (Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-ʿAẓīm, jil. 5, hlm. 36–40).
Selanjutnya, Mi‘raj merupakan naiknya Nabi ke Sidratul Muntaha–menembus lapisan langit—bukan hanya perjalanan kosmik, tetapi juga perjalanan eksistensial yang mengubah orientasi spiritual umat Islam, terutama melalui pensyariatan shalat. Isra’ Mi‘raj bukan peristiwa demonstratif yang dimaksudkan untuk disaksikan publik, melainkan pengalaman transformatif yang kemudian disampaikan kepada masyarakat sebagai ujian iman dan pemaknaan.
Karena itu, pertanyaan “mengapa malam?” menjadi penting: apakah ia sekadar simbol religius, atau justru memiliki dasar yang selaras dengan struktur kesadaran manusia, kosmos, dan hukum pengalaman batin?
Isra’ Mi‘raj tidak dapat dipahami hanya sekadar sebagai perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Mekah ke Yerusalem lalu menembus lapisan langit. Ia adalah pengalaman transformatif, sebuah peristiwa liminal yang mengubah struktur kesadaran subjek yang mengalaminya. Dalam kajian Filsafat Digital khususnya Metafisika Digital (Humaniora Digital), pengalaman semacam ini bukan sekadar “perpindahan tempat”, melainkan peralihan modus eksistensi—dari kesadaran duniawi menuju kesadaran transenden. Karena itu, waktu terjadinya peristiwa ini bukan elemen netral, melainkan bagian integral dari kualitas pengalaman itu sendiri.
Dari perspektif neurosains modern, malam hari memang menghadirkan kondisi kesadaran yang berbeda secara biologis. Penelitian tentang brain waves menunjukkan bahwa siang hari didominasi oleh gelombang beta, yang berkaitan dengan aktivitas logis, respons cepat, dan interaksi sosial. Sebaliknya, malam hari—terutama dalam kondisi sunyi—memperlihatkan peningkatan gelombang alpha dan theta, yang berhubungan dengan kontemplasi, imajinasi simbolik, dan integrasi makna mendalam, sebagaimana dijelaskan oleh Kandel et al. dalam tulisannya, Principles of Neural Science (Kandel et al. 2021, 937–945). Kondisi inilah yang oleh psikologi kesadaran dianggap optimal untuk pengalaman transenden dan refleksi eksistensial.
Hal ini menjelaskan mengapa pengalaman mistik lintas tradisi—baik dalam Islam, Kristen, Hindu, maupun Buddhisme—hampir selalu terjadi pada malam hari atau dalam kesunyian ekstrem. William James dalam bukuya, The Varieties of Religious Experience, sejak awal abad ke-20 telah mencatat bahwa pengalaman religius mendalam muncul ketika kesadaran rasional-instrumental melemah dan digantikan oleh kesadaran intuitif (James 2002, 379–387). Malam, secara psikologis, menyediakan kondisi alamiah bagi pergeseran ini tanpa harus direkayasa secara artifisial.
Selain perubahan gelombang otak, malam juga menghadirkan reduksi distraksi sensorik. Minimnya rangsangan visual, auditori, dan sosial membuat kesadaran lebih mudah beralih dari external attention ke internal awareness. Dalam istilah filsafat kesadaran kontemporer, fokus beralih dari object-oriented consciousness ke self-reflective consciousness, sebagaimana dijelaskan Zahavi dalam karyanya, Self and Other (Zahavi 2014, 63–71). Isra’ Mi‘raj, sebagai peristiwa yang menuntut keterbukaan batin total dan integrasi jiwa–akal–raga, hampir mustahil terjadi dalam kebisingan kognitif dan sosial siang hari.
Secara kosmik-simbolik, malam juga membuka dimensi semesta yang tidak terlihat pada siang hari. Menurut Carl Sagan dalam karyanaya, Cosmos menganggap bahwa Langit malam—dengan bintang, galaksi, dan kedalaman kosmos—secara psikologis memperluas apa yang oleh para kosmolog disebut cosmic perspective (Sagan, 2013, 3–12). Isra’ Mi‘raj adalah perjalanan yang melampaui batas terestrial, menembus lapisan langit, dan memperhadapkan kesadaran manusia dengan skala kosmik–metafisik. Dalam konteks ini, malam bukan sekadar latar waktu, tetapi ruang eksistensial yang selaras dengan narasi kosmik wahyu.
Aspek lain yang sering diabaikan adalah persoalan waktu. Isra’ Mi‘raj terjadi dalam durasi yang sangat singkat, tetapi mencakup perjalanan kosmik yang luas. Dalam Fisika modern, Albert Einstein dalam Relativity: The Special and the General Theory telah lama menunjukkan bahwa waktu bukan entitas absolut, melainkan bergantung pada kondisi dan kerangka acuan (Einstein 2005, 52–61). Dalam filsafat kesadaran, malam sering dipahami sebagai kondisi di mana waktu subjektif menjadi lentur—jam terasa singkat, tetapi pengalaman terasa padat makna. Ini memberi kerangka rasional mengapa peristiwa dengan distorsi temporal lebih masuk akal terjadi dalam kondisi kesadaran malam daripada siang. Argumen ini lah, kenapa Sholat Tahajjud lebih utama pada dilakukan pada sepertiga terakhir malam hari.
Pertanyaan kritisnya: mengapa tidak siang hari? Siang adalah ranah dunia sosial, kerja, dan verifikasi publik. Jika Isra’ Mi‘raj terjadi pada siang hari, ia berpotensi direduksi menjadi atraksi fisik atau sensasi kolektif, bukan peristiwa pembentukan makna. Padahal inti Isra’ Mi‘raj adalah peneguhan kenabian dan fondasi spiritual—terutama pensyariatan shalat—bukan tontonan empiris. Dalam epistemologi wahyu, kebenaran religius tidak tunduk pada logika demonstrasi publik, melainkan pada transformasi batin subjek yang menerimanya.
Malam, dengan demikian, berfungsi sebagai filter epistemik. Ia menjaga kemurnian pengalaman wahyu dari reduksi materialistik sekaligus menguji kesiapan batin penerimanya. Seperti ditegaskan dalam filsafat informasi Luciano Floridi, tidak semua kebenaran harus tampil sebagai data publik; sebagian kebenaran bersifat meaning-generative, bukan fact-exhibitive (Floridi 2011, 85–92). Isra’ Mi‘raj bergerak di wilayah makna yang membentuk orientasi hidup, bukan sekadar menambah informasi faktual.
Pada akhirnya, Isra’ Mi‘raj terjadi pada malam hari karena malam adalah kondisi optimal bagi integrasi kesadaran, reduksi distraksi sensorik, kelenturan waktu subjektif, dan keterbukaan kosmik—semua unsur yang diperlukan bagi peristiwa transenden berskala kosmik. Siang hari adalah waktu manusia menguasai dunia; malam hari adalah waktu dunia melepaskan manusia. Isra’ Mi‘raj tidak mengajarkan cara menaklukkan alam, tetapi cara melampaui keterikatan dunia. Karena itulah, ia harus—dan hanya bisa—terjadi pada malam hari.
REFERENSI
Kandel, Eric R., James H. Schwartz, Thomas M. Jessell, Steven A. Siegelbaum, and A. J. Hudspeth. Principles of Neural Science. 6th ed. New York: McGraw-Hill, 2021. 937–945.
James, William. The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature.
New York: Modern Library, 2002, 379–387.
Zahavi, Dan. Self and Other: Exploring Subjectivity, Empathy, and Shame.
Oxford: Oxford University Press, 2014, 63–71.
Sagan, Carl. Cosmos. New York: Random House, 2013, 3–12.
Einstein, Albert. Relativity: The Special and the General Theory. London: Routledge, 2005, 52–61.
Floridi, Luciano. The Philosophy of Information. Oxford: Oxford University Press, 2011, 85–92.

