(Studi tentang kecerdasan Intelegensi, Emosi dan Spiritualitas)
Khadijah Uchy
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel
Selama puluhan tahun. ukuran orang cerdas, pintar dan hebat oleh para pakar psikologi dan Masyarakat umum selalu berorintasi pada kecerdasan intelek (baca IQ) sampai pada tahun 1990. Setelah diketemukan adanya unsur kecerdasan emosional (EQ) berubah ukuran orang sukses itu tidak semata-mata karena IQ tinggi seseorang. Semenjak tahun 2000an muncul Kecerdasan Spiritual (SQ) yang membahas tentang Identitas dan kualitas seseorang manusia juga ditentuakn adanya SQ sebagai penopang pilar pilar Identitas
Selama ini, IQ merupakan tolak ukur yang dipergunakan dalam pendidikanpun adalah IQ sebagai ukuran yang valid. Akhirnya, orang dengan IQ tinggi selalu dibanggakan sebagai satu satunya ukuran kecerdasan. Sejak tahun 1990=2000, ukuran kecerdasan sudah mulai berubah paradigmanya. Seseoang dengan IQ tinggi ternyata tidak berhubungan dengan kualitas etika dan emosinya. Akhirnya identitas dan kualitas seseorang dalam interaksi kehiduan juga dipengaruhi oleh EQ dan SQ. Perubahan Identitas ini dipengaruhi perjalanan dan perubahan Peradaban manusia.
Peradaban manusia sebagai hasil dari kemampuan intelegensinya mencapai puncak kejenuhannya terutama di Barat adalah abad XX. Pada abad ini manusia telah dilanda krisis, baik krisis identitas, kekeringan rohani, kebingungan intelektual maupun krisis meredam emosi, sehingga menimbulkan krisis kepercayaan. Krisis kepercayaan ini muncul dalam kehidupan manusia, karena manusia telah kehilangan identitas yang paling pokok, yaitu kepercayaan pada dirinya sendiri.
Modernisme sesungguhnya merupakan sebuah tahapan kehidupan baru yang dimulai sejak adanya revolusi ilmu pengetahuan yang pada akhirnya melahirkan revolusi industri di Perancis. Revolusi industri secara menakjubkan membawa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa. Dengan adanya industri dan penemuan ilmu pengetahuan pada akhirnya membawa kemudahan-kemudahan hidup yang pada ujung-ujungnya kehidupan manusia berjalan secara mekanistik. Namun pada sisi lain, dengan munculnya modernisme menyebabkan manusia dilanda penyakit hedonistik dan konsumerisme.
Adanya penyakit seperti ini membuat manusia mengalami kebingungan mental yang menyebabkan kehilangan kepercayaan pada orang lain, diri sendiri bahkan kepada masyarakatnya. Hal ini disebabkan manusia telah kehilangan sifat manusiawinya dan justru yang muncul adalah sikap individualistik bahkan menganggap orang lain dalam istilah Sartre adalah neraka bagi dirinya, sehingga perlu dimusuhi dan dijauhi. Ini semua karena adanya kemenangan kaum kapitalisme dengan segala kemajuan melalui proyek developmentalisme. (Suhermanto Ja’far,2024 https://elkaf.id/filsafat-perennial-dan-metodologi-studi-agama-agama/). Namun sejak itu pulalah manusia telah jenuh dengan sikap materialisme, individualisme, hedonisme, pragmatisme sempit dan bahkan emosi manusia semakin tak terkendalikan.
Perkembangan berikutnya, modernisme dirasakan oleh manusia terutama di Barat menyebabkan adanya kehampaan dan hilangnya identitas manusia yang sebenarnya. (Hanna Djumhana Bastaman, 1994:16). Manusia di Barat yang sering digolongkan The post industrial Society (Seyyed Hossein Nasr, 1984:6) telah menyadari adanya semua ini, sehingga perlahan namun pasti para ilmuwan berusaha mengembalikan identitas manusia pada fitrahnya, yaitu dengan mengembangkan dan mengolah emosi maupun spiritualnya sebagai konsep manusia yang paling esensial. (Theodore Roszak, 1973). Bahkan di Barat sebagai pioner manusia modern telah berhasil mengembangkan suatu kecerdasan yang baru selain intelegensi, yaitu kecerdasan emosi dan spiritualitas. Ini dibuktikan dengan maraknya manusia di Barat yang lari menemui Tuhannya dengan pola spiritualisme baru yang berusaha melatih kepekaan emosi secara proporsional. Bagaimanakah kecerdasan emosi dan spiritualitas berelasi secara sinergis dengan kecerdasan intelegensi ? Apakah kecerdasan intelegensi, emosi maupun spiritualitas merupakan atribut identitas manusia yang sesungguhnya.
Perkembangan teknologi sesungguhnya secara implisit justru semakin menghilangkan identitas, kepribadian manusia, dimana manusia tidak lebih sekedar komoditas. Oleh karena itu, identitas manusia dalam perspektif psikologi yang selama ini hanya dilihat pada aspek intelegensinya justru semakin mengkerdilkan identitas manusia. Identitas manusia dalam perspektif psikologi juga meliputi emosi dan spiritualitasnya. Inilah sesungguhnya, manusia modern banyak melupakan aspek emosi dan spiritualitas sebagai bagian dari identitas manusia pada abad 21. Aspek emosi dan spiritualitas sesungguhnya merupakan identitas manusia yang paling menentukan tindakan dan perilaku sosialnya dalam kehidupan sehari-hari. Identitas manusia secara psikologis merupakan satu kesatuan antara intelegensi, emosi dan spiritualitas.
Dalam era globalisasi saat ini kemajuan tekhnologi, jaringan komunikasi serta sarana kehidupan lainnya menjadi sangat kompleks dan hal ini akan membawa perubahan hidup dalam masyarakat. Perubahan hidup tersebut berjalan secara dialektis, dimana perubahan struktur akan mempengaruhi perubahan kultur, begitu sebaliknya, sehingga perubahan-perubahan tersebut berjalan sinergis antara perubahan yang satu dengan lainnya. Kehidupan manusia juga tidak terlepas dari pengaruh tersebut, karena dengan adanya prubahan tersebut akan mempengaruhi pola perilaku seseorang. Perubahan yang terjadi di lingkungan kita merupakan masa peralihan antara kehidupan tradisional menjadi serba mesin, sehingga juga akan mempengaruhi sikap mental kita dalam menghadapi setiap persoalan kehidupan, setidak-tidaknya terjadi perubahan sikap dan sifat yang menonjol terutama dalam kehidupan sosialnya.
Perubahan-perubahan sosial yang cepat sebagai konsekuensi modernisasi mempunyai dampak pada kehidupan. Tidak semua orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut yang pada gilirannya dapat menimbulkan ketegangan psikologis pada dirinya, sehingga mengakibatkan terjadinya cultural shock. Faktor psikososial cukup mempunyai arti penting bagi terjadinya ketegangan psikologis pada seseorang. Manakala tuntutan pada diri seseorang melampaui kemampuannya, maka kondisi sosial tersebut menyebabkan seseorang akan kehilangan kendali mental.
Secara umum, kondisi sosial yang menyebabkan seseorang akan kehilangan kendali mental tersebut dikarenakan seseorang tidak mampu mengolah dan menyeimbangkan emosi yang ada pada dirinya. Disinilah keterarahan emosional seseorang mendapat tantangan ketika dihadapkan pada berbagai problema kehidupan akibat tuntutan kehidupan yang demikian kompleks. Manusia tidak hanya diukur pada tingkat ketinggian intelegensinya, tetapi juga dilihat pada kemampuan mengolah emosi pada proporsi yang sebenarnya.
Ketidak seimbangan manusia mengelola emosi dan intelegensi akibat perubahan sosial yang begitu cepat, maka akan berakibat pada adanya ketegangan mental-psikologis yang akhirnya akan mempengaruhi pola perilaku manusia. Adanya kekerasan, anarkhisme, sadisme dan bahkan perilaku agresif disebabkan adanya tekanan-tekanan psikologis yang tidak mampu kita pecahkan karena adanya perubahan-perubahan sosial. Baik politik, ekonomi maupun budaya. Kemampuan seseorang dalam mengendalikan, meredam dan mengolah gejolak yang muncul dengan menyalurkan gejolak emosi secara proporsional merupakan kemampuan alami yang secara aktual akan direalisasikan dalam tindakan secara berbeda.
Kemampuan meredam, mengendalikan dan mampu belajar untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dalam memecahkan masalah serta menyesuaikan diri dengan lingkungan secara efektif merupakan suatu kemampuan yang saat ini dalam terminologi psikologi disebut Emotional Quotient (EQ). Emotional Quotient atau Emotional Intelligensi yang lebih dikenal dengan kecerdasan emosi adalah merupakan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, ketahanan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, kemampuan mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa (Goleman, 1995).
Kecerdasan emosional dalam pengertian ini tampaknya lebih ditujukan pada upaya mengenali, memahami, dan mewujudkan emosi dalam porsi yang tepat. Selain itu, salah satu hal penting dalam kecerdasan emosional ini adalah upaya untuk mengelola emosi agar terkendali dan dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah kehidupan, terutama yang terkait dengan hubungan antar manusia. Orang-orang yang faktor emosionalnya berhasil dikembangkan maka orang tersebut akan memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi kegagalan dan dapat memiliki pandangan hidup yang optimis. Hal ini didukung oleh penelitian para ahli yang dilaporkan oleh Gibb (1990) yang menunjukkan bahwa IQ hanya berkonstribusi 20% terhadap keberhasilan seseorang, sisanya tergantung pada keberuntungan, golongan social, dan kemampuan memanage emosional. Hal ini menunjukkan bahwa IQ berjalan secara sinergis dengan EQ.
Disamping kecerdasan inteligensi dan kecerdasan emosional, pada diri manusia juga terdapat kecerdasan spiritual sebagai suatu yang niscaya dalam kehiduapn manusia. Ini terwujud dalam praktek-praktek kehidupan sehari-hari bahwa banyak manusia mempunyai kecenderungan hidup spiritualistis dengan menitik beratkan pada adanya keharmonisan dan keseimbangan antara kebutuhan materialitik dengan kebutuhan rohani melalui meditasi atau melalui rasa solidaritas sesama bahkan yang lebih tepat adalah adanya kerinduan manusia pada Tuhannya sebagai sebuah kehadiran yang hakiki dan sebagai Wujud abadi yang tak pernah berubah. Adanya kerinduan manusia pada Yang Ilahi merupakan sebuah kebutuhan yang bersifat alamiah pada diri manusia. Dalam perspektif psikologis, kerinduan manusia pada Tuhannya merupakan suatu keniscayaan, karena pada diri manusia ada sebuah ruang yang disebut ruang spiritualitas.
Tiga Identitas Kecerdasan Manusia
Semakin maju perkembangan jaman, semakin menimbulkan problematika yang semakin kompleks. Karena itu, tuntutan yang harus dipenuhi juga semakin banyak pula. Akibat tidak terpenuhinya tuntutan tersebut maka dapat menimbulkan keresahan yang berkepanjangan dan persoalan-persoalan baru. Sepanjang hidupnya manusia selalu menghadapi masalah dan kesulitan. Kegiatan memecahkan kesulitan itu merupakan aktivitas manusia yang selalu diulang-ulang sepanjang hayat. Hidup itu sendiri adalah suatu masalah pelik yang harus dipecahkan oleh setiap individu yang menghadapi kesulitan, sementara pengetahuan, intelegensi, dan pengalaman hidupnya tidak bisa dijadikan senjata untuk memecahkan kesulitan tadi.
Seseorang yang ingin memecahkan suatu kesulitan hidup dan ingin mencapai tujuan, namun pelaksanaannya terhalang, dikatakan bahwa dia mengalami ketegangan mental. Ketegangan mental yang dialami terus menerus dapat menimbulkan tekanan dan ketegangan emosional, sebagai respon darurat dari tubuh dalam menghadapi ketegangan mental yang terus menerus (Anoraga, 1988). Adanya ketegangan mental yang terus menerus juga berimplikasi terhadap persoalan kepribadian secara kompleks. Kepribadian sebagai pusat identitas manusia juga akan mengalami hambatan perkembangan. Ini karena, manusia tidak mampu lagi mengolah kemampuan emosionalnya, sehingga hambatan dan ganggguan terhadap mental akan berakibat pada persoalan kepribadian secara utuh.
Identitas manusia dalam perspektif psikologis masih dipahami secara parsial, karena perkembangan kajian psikologi cenderung bersifat positivistic. Manusia hanya dipandang bedasarkan data-data kejiwaan yang diukur secara statistik dan bersifat kuantitatif. Sementara itu, manusia merupakan makhluk yang menyimpan sejuta misteri. Manusia merupakan makhluk yang menyimpan sejuta permasalahan yang tidak hanya aspek luar, tetapi juga menyangkut aspek dalam, yaitu struktur dan hakikat manusia itu sendiri terutama mengenai inti kemanusiaannya yang berpusat pada Aku, kepribadian, kesadaran dan ego sebagai pusat identitasnya.
Dalam perspektif psikologi, kemampuan manusia selalu dihubungkan dengan Intelegence Quotient (IQ). Faktor IQ merupakan fator utama dalam mengukur tingkat kecerdasan, mental dan kreativitas manusia, sehingga IQ dianggap sebagai komponen utama dalam identitas manusia. Padahal factor intelegensi hanyalah sebagian kecil dari kemampuan dan kecerdasan seseorang. Selain IQ juga masih ada factor Emotional Quotient dan Spirituality Quotient sebagai factor yang juga menentukan tingkat kemampuan manusia.
Intelligence quotient sebagai salah komponen dalam melihat kemampuan atau kecerdasan manusia dalam perspektif psikologi secara umum dianggap sebagai proses mental yang berhubungan dengan perilaku kognitif seseorang dalam mengukur kemampuan dan kecerdasan dalam memecahkan persoalan kehidupan yang menyangkut tingkah lakunya. Dengan demikian, kecerdasan inteligensi (Intelligence quotient ) merupakan aspek mental seseorang yang berkaitan dengan aspek kognisi dalam perilaku mental dalam struktur kejiwaan manusia. (Alfred W. Munzert, 2000: 77 – 82)
Aspek kognisi merupakan komponen utama yang berkaitan dengan kecerdasan intelegensi. Mengenai Kognisi, Scheerer (1954) mendefinisikan sebagai suatu proses sentral yang menghubungkan peristiwa-peristiwa di luar (eksternal) dan di dalam (internal) diri sendiri. Festinger (1957) mengatakan bahwa kognisi adalah hal-hal yang diketahui oleh seseorang tentang dirinya sendiri, tentang tingkah lakunya dan tentang keadaan di sekitarnya. Neisser (1967) mendefinisikan kognisi sebagai suatu proses yang mengubah, mereduksi, merinci, menyimpan, mengumpulkan dan memakai setiap masukan (input) yang datang dari alat indera.
Krech dan Crutchfield (1948) menyatakan bahwa proses tingkah laku manusia adalah aktif, tidak pasif atau mekanistik. Jadi di dalam teori kognitif ini dapat dikatakan bahwa apabila seseorang tidak dapat menghubungkan peristiwa di luar dan di dalam dirinya sendiri, maka akan timbul suatu ketegangan yang mempengaruhi persepsi, kognisi, dan tindakan, perilaku agresi akan timbul apabila ada ketegangan, yaitu individu gagal menghubungkan peristiwa di luar dan di dalam dirinya.
Dalam perkembangan psikologi berikutnya dapat ditemukan bahwa kemampuan seseorang tidak hanya dilihat dari segi intelegensinya, tetapi justru para ahli psikologi menganggap bahwa Emotional Quotient (kecerdasan emosional) merupakan factor yang paling penting untuk melihat kemampuan mental seseorang. Hal ini karena Kecerdasan emosional (EQ) justru lebih mendominasi pada mental seseorang. Dalam penelitian para ahli psikologi kontemporer diketemukan adanya peran kecerdaan emosional lebih tinggi dari pada kecerdasan intelegensi. Bahkan para ahli psikologi menganggap bahwa kemampuan dan kecerdasan pada manusia 20 persen dipengaruhi oleh IQ (kecerdasan intelegensi), selebihnya justru didominasi oleh kecerdasan emosional (EQ).
Banyak bukti memperlihatkan bahwa orang-orang yang secara emosional cakap dalam mengetahui dan menangani perasaan diri sendiri dengan baik, mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan termasuk dalam hubungan yang mendalam dan penuh cinta dengan orang lain. Orang yang keterampilan emosionalnya berkembang dengan baik berarti kemungkinan besar ia akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan, mampu menguasai kebiasaan-kebiasaan pikiran yang mendorong produktivitas mereka sendiri. Sedangkan orang-orang yang tidak dapat menghimpun kendali tertentu atas kehidupan emosionalnya akan mengalami pertarungan batin yang merampas kemampuan mereka untuk memusatkan perhatian pada pekerjaan dan mempengaruhi pikiran mereka yang jernih (Goleman, 1995).
Kecerdasan emosional bukan merupakan kemampuan yang bersifat bawaan sejak lahir, melainkan dapat dipelajari dan dikembangkan terus-menerus. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan penting dan perlu perhatian untuk membentuk kompetensi secara emosional sejak kanak-kanak sehingga individu mampu mengatasi dan melewati berbagai asfek kehidupan dengan sukses (Goleman, 1995). Selain itu pengalaman juga mempengaruhi berkembangnya kecerdasan emosional individu. Dari keseluruhan yang telah disampaikan di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk dapat mengenali emosi diri, mengelola emosi, dapat memotivasi diri, mengenali emosi dalam diri orang lain, dan mampu mengendalikan hubungan baik dengan orang lain.
Kecerdasan emosional biasanya akan terkait dengan kecakapan atau kemampuan seseorang dalam mengatasi, memecahkan, dan melewati berbagai aspek permasalahan dalam kehidupan. Dalam kehidupan banyak sekali masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan semata dengan menggunakan kemampuan intelektual seseorang. Dengan kata lain, kecerdasan emosi memiliki kontribusi yang sangat besar dalam mencapai keberhasilan hidup. Kecerdasan emosi bekerja secara sinergis dengan keterampilan kognitif.
Orang-orang yang berprestasi tinggi memiliki keduanya, semakin kompleks pekerjaan seseorang, maka semakin penting kecersasan emosi yang harus dimiliki orang tersebut. Kekurangan kecerdasan emosi dapat menyebabkan seseorang terganggu dalam menggunakan keahlian teknis atau keenceran otak yang mungkin dimilikinya. Indicator dari kecerdasan emosional adalah : pertama, kesadaran diri (self awareness); kedua, pengaturan diri (self regulation); ketiga, motivasi (motivation); keempat, empati (empathy); dan kelima, keterampilan sosial (social skill).
Disamping itu, perkembangan psikologi memberikan bukti lain mengenai adanya kecerdasan spiritual sebagai sebuh komponen baru dan terpenting dalam identitas manusia, yang selama ini banyak dilupakan dalam kajian psikologi. Kecerdasan spiritual merupakan suatu penemuan baru psikologi yang beranggapan bahwa spiritualitas merupakan salah satu identitas manusia. Adanya kecerdasan spiritual ini memberikan suatu bukti bahwa pada identitas manusia terdapat suatu naluri adi kodrati mengenai adanya kebutuhan hakiki seorang manusia akan Tuhannya, sehingga manusia dalam kesadaran dan nuraninya mempercayai adanya suatu Zat yang transendental yang melampaui semua kekuatan mental manusia. Dalam hal ini relevan sekali pandangan yang beraanggapan bahwa manusia adalah homo religius. Manusia merupakan makhluk yang beragama yang meyakini adanya kebutuhan spiritualitas akan Tuhannya.
Tiga pilar kecerdasan seseorang sebagai identitas manusia tidak akan bisa tergantikan dengan adanya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sampai kapapun, sekalipun perkembangan AI telah sangat maju. IQ mungkin bisa ditiru saat ini, EQ kedepan mungkin bisa ditiru, tapi IQ mungkin sulit ditiru sampai kapapun karena AI tidak mempunyai kecerdasan Spiritual. AI tidak mempunyai kesadaran religiusitas, karena tidak adanya dimensi ilahiyah dalam proses pembentukannya. Tuhan tidak terlibat dan melibatkan dalam proses pembentukannya. AI tidak mempunya kesadaran religius yang disebut Carl Gustav Jung sebagai Homo Religious.
DAFTAR PUSTAKA
Hanna Djumhana Bastaman, “Dimensi Spiritualitas dalam teori psikologi”, dalam Ulumul Qur’an No. 4, Vol. V (1994), 16
Seyyed Hossein Nasr, Islam and the Plight of Modern Man, (Terj.) (Bandung : Pustaka, 1984).
Alfred W. Munzert, Tes Intelligence quotient (IQ), (Jakarta : Kentindo Publishier, 2000)
Aderia, D. W. Hubungan antara EI dan Kecenderungan Agresi pada Remaja SMU Sejahtera Surabaya Tahun 1997-1998. (Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya 1997).
Chaplin, J.P. alih bahasa Kartini Kartono.. Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: Rajawali Pers, 1999
Djamaluddin A. Nuansa Psikologi Pembangunan. (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 1995)
Fabella, T. Anda Sanggup Mengatasi Stres. (Jakarta: Indonesia Publishing House,. 1993
Gerungan, Psikologi Sosial. (Bandung: Refika Aditama, 2000)
Glynis, M.B. Coping Aggressive Behaviour. (Yokyakarta: Kanisius, 1997)
Goleman, D. Emotional Intelligence : Mengapa EI Lebih Penting dari pada IQ. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000)
Gottman, J. dan Claire, J. D. . Kiat-Kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Alih Bahasa : T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia, 1997)
Hurlock, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. (Jakarta: Erlangga, 1991.
Kerlinger, F. N. Foundatin of Behaviour Research. (New York : CRB College Publishing, 1986)
Koeswara, E. Agresi Manusia. (Bandung: Eresco.1988)
Monks, F. J., Kroes dan Haditono. Psikologi Perkembangan.( Yogyakarta: Gajah Mada University Press,. 1996)
Sarlito, W. Teori-Teori Psikologi Sosial. (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1998)
Suryabrata, S. Metodologi Penelitian. (Jakarta: Grafindo Persada, 1998)
Zakiah, D. Perkembangan Jiwa dan Pembinaan Mental. (Jakarta:Bulan Bintang, 1987)
Theodore Roszak, Where the Wasteland Ends, Politics and Transendence in Post industrial Society Volume 903, (Doubleday, Anchor Book, 1973)


