
Nabila Hani Puspita Bhakti
Mahasiswa Prodi Tapsitera F2 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Perkembangan teknologi digital dalam beberapa dekade terakhir telah menghasilkan transformasi signifikan dalam cara pengetahuan diproduksi, didistribusikan, dan dilegitimasi dalam masyarakat. Kehadiran algoritma dan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu teknis, tetapi telah berkembang menjadi struktur yang memiliki peran epistemologis dalam menentukan aksesibilitas dan visibilitas pengetahuan.[1] Dalam konteks ini, pengetahuan tidak lagi sepenuhnya dihasilkan melalui mekanisme ilmiah tradisional, melainkan juga dipengaruhi oleh sistem teknologi yang bekerja secara kompleks dan sering kali tidak transparan.[2]
Dalam kerangka filsafat ilmu, pengetahuan dipahami sebagai hasil konstruksi rasional yang melalui proses metodologis tertentu serta validasi komunitas ilmiah. Namun, dalam ekosistem digital, algoritma mengambil alih sebagian fungsi tersebut dengan cara menyaring dan merekomendasikan informasi berdasarkan preferensi pengguna.[3] Hal ini menunjukkan bahwa algoritma tidak bersifat netral. Sebagaimana ditegaskan oleh Michel Foucault, “power and knowledge directly imply one another yang berarti bahwa pengetahuan tidak pernah lepas dari relasi kekuasaan. Dalam konteks digital, algoritma dapat dipahami sebagai bentuk baru dari kekuasaan epistemik yang menentukan apa yang dianggap relevan dan benar.[4]
Dominasi algoritma juga memunculkan fenomena filter bubble dan echo chamber. Dalam kondisi ini, individu cenderung hanya menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya.[5] Eli Pariser menyatakan bahwa “your computer monitor is a kind of one-way mirror, reflecting your own interests while algorithmic observers watch what you click yang menggambarkan bagaimana pengguna sebenarnya terkurung dalam ruang informasi yang dipersonalisasi. Hal ini berimplikasi pada menurunnya kualitas diskursus publik karena kurangnya paparan terhadap perspektif yang beragam.
Lebih lanjut, Tarleton Gillespie menegaskan bahwa “algorithms are not just technical tools; they are also political yang menunjukkan bahwa algoritma memiliki dampak sosial dan politik yang luas. Dengan kata lain, algoritma tidak hanya mengatur arus informasi, tetapi juga membentuk struktur perhatian masyarakat.
Selain algoritma, perkembangan Artificial Intelligence turut memperkuat perubahan dalam struktur epistemik masyarakat.[6] AI modern memiliki kemampuan untuk menghasilkan konten yang menyerupai produksi manusia. Shoshana Zuboff menyatakan bahwa “surveillance capitalism unilaterally claims human experience as free raw material for translation into behavioral data yang menunjukkan bahwa data pengguna menjadi sumber utama dalam sistem AI. Dengan demikian, AI tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga membentuknya berdasarkan kepentingan ekonomi tertentu.
Transformasi ini juga berdampak pada perubahan struktur otoritas ilmiah. Jika sebelumnya otoritas ilmiah terpusat pada institusi akademik, kini terjadi fragmentasi yang melibatkan berbagai aktor non-akademik. Thomas S. Kuhn menjelaskan bahwa “scientific revolutions are inaugurated by a growing sense… that an existing paradigm has ceased to function adequately” yang dapat diinterpretasikan bahwa perubahan dalam sistem pengetahuan juga melibatkan perubahan paradigma. Dalam era digital, paradigma ilmiah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber legitimasi kebenaran.[7]
Di sisi lain, fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk demokratisasi pengetahuan. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menyatakan bahwa “reality is socially constructed yang menegaskan bahwa pengetahuan terbentuk melalui interaksi sosial. Namun, keterbukaan ini juga memunculkan tantangan berupa meningkatnya misinformasi dan disinformasi.
Dalam konteks ini, Robert K. Merton menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus berlandaskan pada norma “universalism, communism, disinterestedness, and organized skepticism yang sering kali tidak terpenuhi dalam ekosistem digital. Akibatnya, legitimasi pengetahuan lebih banyak ditentukan oleh popularitas dibandingkan validitas ilmiah.[8]
Lebih jauh lagi, perkembangan teknologi digital juga mendorong komodifikasi pengetahuan. Henry Kissinger, bersama Eric Schmidt dan Daniel Huttenlocher, menyatakan bahwa “AI will alter humanity’s perception of reality and truth yang menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya memengaruhi cara manusia mengakses informasi, tetapi juga cara manusia memahami kebenaran itu sendiri.
Implikasi dari fenomena ini adalah munculnya ketergantungan epistemik terhadap teknologi. Individu cenderung mempercayai hasil algoritma tanpa melakukan verifikasi mendalam. Kondisi ini berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis. Selain itu, sistem algoritmik yang bersifat black box menimbulkan persoalan transparansi dan akuntabilitas.
Lebih lanjut, isu etika dalam penggunaan Artificial Intelligence menjadi perhatian utama dalam diskursus akademik kontemporer. Nick Bostrom menekankan bahwa perkembangan AI yang tidak terkontrol dapat menimbulkan risiko eksistensial bagi manusia, terutama ketika sistem tersebut memiliki otonomi dalam pengambilan keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya menghadirkan manfaat, tetapi juga potensi ancaman yang perlu diantisipasi melalui regulasi dan etika yang ketat.
Selain itu, Luciano Floridi dalam konsep philosophy of information menyatakan bahwa manusia kini hidup dalam “infosphere”, yaitu ruang di mana realitas fisik dan digital saling terintegrasi. Dalam ruang ini, batas antara informasi, pengetahuan, dan realitas menjadi semakin kabur. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan filosofis baru untuk memahami bagaimana kebenaran dikonstruksi dalam era digital.
Namun demikian, teknologi juga memiliki potensi besar untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. AI dapat membantu analisis data dalam skala besar, mempercepat inovasi, serta membuka peluang kolaborasi global. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kesadaran kritis terhadap keterbatasannya.
Kesimpulanya adalah, dominasi algoritma dan Artificial Intelligence dalam konstruksi pengetahuan merupakan fenomena yang kompleks dan multidimensional. Teknologi tidak hanya memfasilitasi akses informasi, tetapi juga membentuk struktur pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan literasi digital, literasi ilmiah, serta refleksi filosofis yang mendalam agar manusia tetap menjadi subjek utama dalam proses pencarian kebenaran.
REFERENSI
[1] S. D. Fajarini, F. Yuliani, and J. Kurniawati, “Peran Algoritma Media Sosial Dalam Membentuk Filter Bubble Dan Echo Chamber Di Kalangan Milenial Dan Gen Z Kota Bengkulu,” J. Sarj. Ilmu Komun., vol. 6, no. 1, pp. 205–226, 2025.
[2] Amelia Tri Andini and Yahfizham, “Analisis Algoritma Pemrograman Dalam Media Sosial Terhadap Pola Konsumsi Konten,” J. Arjuna Publ. Ilmu Pendidikan, Bhs. dan Mat., vol. 2, no. 1, pp. 286–296, 2023.
[3] V. Wulandari, G. Rullyana, and Ardiansah, “Pengaruh algoritma filter bubble dan echo chamber terhadap perilaku penggunaan internet,” Berk. Ilmu Perpust. dan Inf., vol. 17, no. 1, pp. 98–111, 2021.
[4] A. F. Fo, G. R. Bunga, S. C. A. Kawengian, and V. K. Saragih, “KEMAJUAN TEKNOLOGI MEMBERIKAN KEMUDAHAN DALAM INTERAKSI DIGITAL MANUSIA,” J. Komun. Digit. – Digication, pp. 1–13, 2024.
[5] Y. Amri and L. I. Yandri, “Algoritma Media Sosial Dan Polarisasi Politik Dalam Demokrasi Digital Di Indonesia,” J. Suara Polit., vol. 4, no. 1, pp. 78–84, 2025.
[6] Y. A. Sarbani, H. Mulyati, and S. I. Astuti, “Literasi Digital, Lansia, dan Konstruktivisme: Pendekatan Pembelajaran untuk Meningkatkan Resiliensi Para Imigran Digital,” Scriptura, vol. 14, no. 1, pp. 72–81, 2024.
[7] A. R. Hidayah and M. A. Nur, “Analisis Tantangan Moderasi Beragama di Era Digital melalui Perspektif Teori Filter Bubble dan Echo Chamber,” J. Sos. Hum., vol. 17, no. 2, pp. 150–160, 2024.
[8] Salman Shiddiq and Misra, “Teori Filter Bubble dan Echo Chamber: Dampak Transformasi Digital Terhadap Pendidikan Islam,” Concept J. Soc. Humanit. Educ., vol. 4, no. 1, pp. 122–130, 2025.

