Algoritma dan Pergeseran kuasa Pengetahuan Di masa Kecerdasan Buatan

Radita Raka Vandira

Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Di masa lalu, ketika seseorang ingin mendapatkan jawaban atas suatu masalah, umumnya ia akan meminta pendapat dari orang yang dianggap berpeengalaman. Mahasiswa biasanya meminta pendapat dari dosen, masyarakat berkonsultasi kepada ulama atau figur masyarakat, dan pelajar mencari infotmasi dari buku atau bertanya kepada guru. Dari hal ini ada semacam kesepakatan sosial tentang siapa yang berhak untuk menjelaskan serta menyediakan pengetahuan. Namun, pada era digital saat ini, terutama dengan adanya kemunculan kecerdasan buatan ( AI ), pola tersebut mulai mengalami perubahan. Banyak orang memilih  menggunakan mesin pencari atau bertanya kepada AI dari pada merujuk pada otoritas konvensional.

Transformasi ini bukan hanya terkait dengan kemajuan teknologi, akan tetapi juga menyangkut cara pengetahuan diproduksi, disebarkan, dan diterima oleh masyarakat. Dalam konteks ini,  dunia digital dan algoritma memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan informasi mana yang tampak di layar kita. Ketika kita mencari sesuatu di internet atau membuka sosial media kita, kita sebenarnya tidak melihat seluruh informasi yang ada. Kita hanya disuguhkan informasi yang telah dipilih dan diurutkan oleh algoritma berdasarkan sejumlah pertimbangan tertentu.

Algoritma pada dasarnya adalah sekumpulan instruksi atau rumus yang digunakan oleh sistem komputer untuk mengelola data dan mengambil keputusan tertentu. Di platform digital seperti mesin pencari, media sosial, atau aplikasi berbasis AI, algoritma bertugas untuk menentukan konten mana yang dianggap paling relevan bagi penggunanya. Namun, masalahnya adalah bahwa pilihan tersebut tidak selalu bersifat netral. Algoritma berpacu dengan data, pola perilaku pengguna,, serta kepentingan dari sistem yang telah dirancang oleh perusahaan teknologi.

Akibatnya adalah algoritma secara tidak langsung bertindak sebagai “ penjaga akses pengetahuan “ ia memutuskan informasi mana yang lebih sering muncul, yang jarang muncul, dan bahkan yang hampir tidak tampak oleh pengguna. Dalam situasi tersebut, kuasa pengetahuan tidak sepenuhnya berada di tangan akademisi, peneliti, atau lembaga pendidikan. Sebagian dari kuasa tersebut beralih tangan kepada sistem teknologi yang mengendalikan aliran informasi.

Fenomena ini sering kali tidak kita sadari. Ketika seseorang mencari informasi tentang kesehatan, agama, politik,, atau isu sosial tertentu, hasil yang ditampilkan di layar tidak selalu akurat atau  relevan, kadang juga tidak berhubungan dengan isu tersebut. Seringkali, yang muncul adalah infromasi yang paling sering dilihat atau populer, yang paling banyak diklik, atau yang sesuai dengan preferensi si pengguna sebelumnya. Dari sinilah algoritma mulai membentuk cara kita dalam memahami dunia.

Salah satu dampak dari sistem ini adalah munculnya “ ruang gema” yang dikenal dengan istilah echo chamber. Pada kondisi ini, seseorang lebih banyak menerima informasi yang sejalan dengan pandangan yang sudah dimilikinya sebelumnya. Algoritma menganalisis perilaku dan kebiasaan pengguna dan kemudian terus menerus mengirimkan konten yang mirip dengan apa yang sering mereka lihat atau yag sering mereka sukai ( like ). Sebagai hasilnya, pengguna menjadi semakin jarang menemukan perpektif yang berbeda.

Dalam waktu yang lama, situasi seperti ini dapat berpengruh terhadap cara orang memahami kebenaran. Jika pada masa lalu, kebenaran sering di uji melalaui debat ilmiah dan penelitian, saat ini kebenaran kadang dinilai dari sering dan banyaknya informasi yang muncul di media sosial. Popularitas ini seringkali tampak seperti kebenaran, meskipun keduanya sebenarnya berbeda.

Kehadiran kecerdaan buatan ( AI)  mempercepat transisi ini, AI mampu merangkum informasi, menjawab pertanyaan bahkan juga menciptakan teks dengan waktu yang begitu singkat. Banyak orang merasa teknologi ini sangat membantu dan berguna karena memudahkan akses ke pengetahuan. Namun, disisi lain ada sejumlah pertanyaan penting yang perlu kita pikirkan yaitu : seberapa jauh kita bisa mempercayai sistem yang beroprasi berdasarkan data dan algoritma ?.

Kecerdasan buatan, pada dasarnya belajar dari kumpulan data yang sangat besar. Ia tidak memiliki kesadaran atau kemampuan untuk menilai kebenaran secara moral atau filosofis seperti manusia. Artinya adalah jika ada data yang digunakan itu mengandung bias, maka hasilnya juga akan terpengaruh. Dalam hal ini, algoritma bukan hanya alat teknologi, akan tetapi juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi struktur pengetahuan di masyarakat.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa otoritas pengetahuan sedang mengalami perubahan yang besar. Kini, kita berada di era dimana pengetahuan tidak lagi dikuasai oleh lembaga tertentu. Di sisi lain, situasi seperti ini membuka kesempatan untuk mendemonstrasikan pengetahuan. Saat ini siapapun lebih mudah mengakses informasi dengan cepat. Namun, kemudahan ini juga mempengaruhi dan juga membawa tantangan baru, terutama dalam hal kemampuan untuk membedakan antara yang benar, salah, atau bahkan menyesatkan.

Oleh karena itu, salah satu keterampilan yang semakin penting di era digital saat ini adalah literasi informasi. Literasi informasi bukan hanya tentang membaca atau mencari data di internet saja, akan tetapi juga mencakup kemampuan untuk mengevaluasi sumber informasi : dari mana asalnya ?, aoakah sumber tersebut dapat dipercaya ?, adalah pandangan lain yang perlu dipertimbangkan ?.

Selain itu, penting untuk kita menyaadari bahwa algortima bukanlah sistem yang sepenuhnya netral. Ia dirancang oleh manusia dan perusahaan teknologi yang memiliki kepentingan dalam bidang ekonomi, politik atau bisnis. Dengan memahami hal ini, kita bisa lebih berhati-hati dalam menghadapi informasi di dunia digital.

Ditengah pesatnya perkembangan teknologi, peran manusia sebagai individu yang berpikir kritis  tetap tak tergantikan oleh sistem atau mesin. Algoritma memang bisa memproses data dalam jumlah besar dan menghasilkan jawaban yang benar dengan cepat. Akan tetapi tanggung jawab untuk menilai kebenaran tetap berada dalam tangan manusia. Kita tetap membutuhkan dialog, refleksi, serta tradisi keilmuan yang selama ini menjadi fondasi pengetahuan dan pencari kebenaran.

Pada akhirnya kehadiran algoritma dan kecerdasan buatan (AI) seharusnya tidak dilihat sebagai sebuah ancaman terhadap ilmu pengetahuan. Teknologi ini bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika dimanfaatkan dengan baik dan bijaksana. Tantangan yang muncul adalah bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan teknologi ini tanpa mengabaikan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran epistemik.

Zaman kecerdasan buatan (AI) mungkin telah mengubah cara kita mendapatkan infomasi, akan tetapi tanggung jawab untuk menentukan apa yang benar tetap berada di tangan manusia. Di tengah maraknya informasi yang ditentukan oleh algoritma, kemampuan berpikir kritis, menerima sudut pandang yang berbeda, dan memverifikasi sumber informasi menjadi sangat vital. Tanpa pengetahuan tersebut kita beresiko menyerahkan kontrol atas pengetahuan sepenuhnya kepada sistem yang pada dasarnya beroprasi berdasarkan data yang tersedia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top