AI ALIGNMENT

Seri Cyclopedia Digital # 2

Suhermanto Ja’far

Dosen Filsafat Digital Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Univeristas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

AI Alignment merupakan istilah yang terdiri dari singkatan AI (Artificial Intelligence) yang berarti kecerdasan buatan, dan kata alignment yang bermakna penyelarasan. Dengan demikian, AI Alignment bukanlah singkatan tersendiri, melainkan istilah konseptual yang menunjuk pada upaya penyelarasan sistem kecerdasan buatan dengan nilai, tujuan, dan kepentingan manusia. Istilah ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran bahwa sistem AI yang semakin otonom dapat bertindak secara rasional menurut parameter teknisnya, tetapi menyimpang dari maksud, nilai moral, dan kesejahteraan manusia (Russell 2019a, 3–6).

Secara konseptual, AI Alignment dimaknai sebagai masalah bagaimana merancang, melatih, dan mengendalikan AI agar tujuan yang dioptimalkannya benar-benar mencerminkan apa yang diinginkan manusia, bukan sekadar apa yang secara eksplisit diperintahkan. Masalah ini muncul karena nilai manusia bersifat kompleks, kontekstual, dan sering kali sulit diformalkan ke dalam fungsi matematis. Akibatnya, AI dapat menjalankan perintah secara literal namun menghasilkan konsekuensi yang secara etis atau sosial tidak diharapkan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai misalignment (Bostrom 2014, 120–23).

Dalam ranah teknis, AI alignment berkaitan erat dengan isu value specification, reward design, dan robustness. Sistem AI, khususnya yang berbasis machine learning dan reinforcement learning, cenderung mengoptimalkan fungsi tujuan yang diberikan kepadanya. Jika fungsi tersebut tidak merepresentasikan nilai manusia secara memadai, AI dapat mengejar tujuan dengan cara-cara yang manipulatif, berbahaya, atau merugikan manusia. Russell menekankan bahwa tantangan utama alignment bukan membuat AI lebih cerdas, melainkan membuatnya tetap beneficial ketika kecerdasannya melampaui kemampuan manusia (Russell 2019b, 173–76).

Pada level etika dan filsafat, AI alignment melampaui persoalan teknis dan menyentuh pertanyaan normatif tentang nilai apa yang seharusnya menjadi dasar tindakan AI. Floridi memandang alignment sebagai bagian dari proyek AI ethics by design, yakni integrasi nilai-nilai moral ke dalam seluruh siklus hidup teknologi, mulai dari desain hingga implementasi sosialnya (Floridi et al. 2018, 689–707). Dalam perspektif ini, alignment dipahami sebagai proses sosio-teknis yang melibatkan manusia, institusi, dan struktur nilai, bukan sekadar persoalan kode dan algoritma.

Selain itu, AI alignment juga memiliki dimensi sosial dan politik yang signifikan. Nilai yang dijadikan acuan dalam penyelarasan AI sering kali mencerminkan kepentingan kelompok atau institusi tertentu, sehingga berpotensi mereproduksi bias dan ketimpangan struktural. Noble menunjukkan bahwa tanpa kesadaran kritis, sistem algoritmik dapat memperkuat ketidakadilan sosial sambil tetap tampak “netral” secara teknis (Noble 2018, 30–34). Oleh karena itu, AI alignment menuntut keterlibatan lintas disiplin untuk memastikan bahwa AI selaras tidak hanya dengan tujuan fungsional, tetapi juga dengan keadilan sosial dan martabat manusia.

AI Alignment dapat dipahami sebagai proyek teknis, etis, dan ontologis sekaligus. Ia tidak hanya bertanya bagaimana mengendalikan AI, tetapi juga bagaimana manusia mendefinisikan kembali nilai, tanggung jawab, dan makna kemanusiaan dalam relasi dengan entitas cerdas non-manusia. Dalam konteks ini, AI alignment menjadi fondasi penting bagi pengembangan AI yang aman, adil, dan berorientasi pada keberlanjutan kehidupan manusia di era digital dan onlife.

Referensi

Bostrom, Nick. 2014. Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies. First edition. Oxford University Press.

Floridi, Luciano, Josh Cowls, Monica Beltrametti, et al. 2018. “AI4People—An Ethical Framework for a Good AI Society: Opportunities, Risks, Principles, and Recommendations.” Minds and Machines 28 (4): 689–707. https://doi.org/10.1007/s11023-018-9482-5.

Noble, Safiya Umoja. 2018. Algorithms of Oppression: How Search Engines Reinforce Racism. New York University Press.

Russell, Stuart J. 2019a. Human Compatible: Artificial Intelligence and the Problem of Control. Viking.

Russell, Stuart J. 2019b. Human Compatible: Artificial Intelligence and the Problem of Control. Viking.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top