Oleh : Suhermanto Ja’far
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel
Developmentalisme yang sering dikaitkan dengan teori ekonomi Raul Prebisch dan Celso Furtado menganggap bahwa negara-negara berkembang perlu melindungi perekonomian mereka dari dampak negatif perdagangan bebas dan kapitalisme global. Developemtalisme merupakan suatu ideologi yang meyakini bahwa negara harus aktif mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama di negara berkembang. Ide ini muncul setelah Perang Dunia II sebagai respons atas tantangan ekonomi negara-negara baru merdeka. Developmentalisme adalah ideologi yang kompleks dengan sejarah panjang dan dampak yang beragam. Meskipun pernah dianggap ketinggalan zaman, ide ini kembali relevan dalam konteks tantangan global saat ini.
Developmentalisme sebagai ideologi politik yang menekankan peran negara dalam mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Hal ini muncul pada pertengahan abad ke-20, terutama sebagai respons terhadap tantangan ekonomi yang dihadapi negara-negara berkembang setelah berakhirnya pemerintahan kolonial. Ideologi ini berakar pada keyakinan bahwa intervensi negara diperlukan untuk merangsang dan mengarahkan pertumbuhan ekonomi, khususnya di negara-negara yang sedang berjuang untuk mengembangkan perekonomiannya.
Pada tahun 1980-an dan 1990-an, ideologi developmentalisme mendapat kritik karena neoliberalisme dan Konsensus Washington menjadi dominan dalam kebijakan ekonomi global. Ideologi-ideologi ini menekankan perdagangan bebas, deregulasi, dan privatisasi, dengan alasan bahwa kebijakan-kebijakan ini akan menghasilkan perekonomian yang lebih efisien dan dinamis. Namun, krisis keuangan global tahun 2008 dan tantangan yang dihadapi negara-negara berkembang telah menyebabkan bangkitnya kembali minat terhadap developmentalisme.
Teologi Pembebasan adalah sebuah gerakan teologis yang muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan sosial dan ekonomi yang mendalam di banyak negara berkembang. Respon ini muncul karena adanya Kegagalan Model Pembangunan yang seringkali diadopsi oleh negara-negara berkembang dalam mengatasi masalah kemiskinan, kesenjangan sosial, dan ketidakadilan. Kekagagalan model ini melahirkan adanya eksploitasi Eksploitasi kelompok elit tertentu, baik sumber daya alam dan masyarakat lokal, tanpa memberikan manfaat yang signifikan bagi mereka. Disamping itu, developmentalisme melahirkan sebuah kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin dan antara penguasa dan rakyat.
Adanya eksploitasi inilah yang menyebabkan terjadinya banyak pelanggaan terhadap HAM, seperti pemindahan paksa, penindasan terhadap kelompok minoritas, dan kriminalisasi terhadap para aktivis. Adanya kegagalan inilah melahirkan kesadaran di kalangan para agamawan untuk melakukan gerakan pembebasan dari pintu teologi. Teologi Pembebasan muncul sebagai respons terhadap kegagalan model pembangunan konvensional dalam mengatasi masalah sosial dan ekonomi yang mendalam di negara-negara berkembang. Gerakan ini menawarkan alternatif yang lebih manusiawi dan berpusat pada keadilan sosial.
Secara Ontologis-Epistemologis, Teologi masih dipahami oleh banyak umat beragama, termasuk Islam terbatas dalam pengertian klasik-tradisional, yaitu sebagai ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dalam makna rigorous, sebagaimana ajaran-ajaran teologi ortodoks, sehingga membuat kita (umat beragama) memiliki jarak dengan realitas kehidupannya, karena nilai-nilai transformasi dan pembebasan kurang tersentuh. Bangunan teologi seperti inilah yang kemudian akhirnya dikritik habis-habisan oleh para cendekiawan, agamawan berikutnya, baik dalam Islam, Kristen, Katolik, Hindu maupun Budha.
Dikalangan Islam muncul para filosof kontemporer seperti Ali Syariati, Hassan Hanafi, Asghar Ali Engineer dan Zia ul-Haq. Bagi mereka dalam memahami hubungan antara Tuhan, manusia dan alam semesta, teologi harus dipahami sebagai sebuah paradigma yang berisikan kumpulan ajaran agama yang secara koheren bersentuhan dengan realitas sosial dan mampu memberikan alternatif jawab bagi umat beragama menghadapi tantangan jaman. Inilah yang pada akhirnya menjelma menjadi sebuah teologi yang membebaskan manusia dari segala problematika kehidupannya.
Saat ini bermunculan keinginan para agamawan untuk memecahkan problematika social memakai pendekatan teologi yang dikenal dengan istilah teologi kontekstual, salah satunya yang terkenal adalah teologi pembebasan. Teologi Pembebasan, baik dari penggunaan istilah maupun sejarah, metode dan praksisnya masih mengundang perdebatan. Penulis tidak akan menguraikan lebih jauh mengenai perdebatan penggunaan istilah ini, karena pada intinya, segala macam sebutan atau penamaan tersebut akan kembali pada usaha untuk membebaskan umat manusia dari ketertindasan, baik itu kemiskinan, kebodohan maupun diskriminasi. Namun sedikit catatan yang menurut penulis menarik adalah digunakannya pula istilah ilmu social Prophetic, yaitu ilmu social yang mengarahkan keadaa menuju arah yang lebih baik dan dikaitkan dengan misi kenabian
Tulisan ini lebih pada deskripsi urgensi agama dalam gerakan pembebasan sebagai suatu panggilan teologi bagi penganutnya. Gerakan pembebasan yang muncul dari kesadaran teologis ini merupakan panggilan iman semua agama dalam melakukan upaya pencerahan penganut agama, baik secara historis maupun praksisnya. Pembebasan dalam perspektif teologi, sesungguhnya telah muncul dalam semua Agama.
Hindu dan teologi pembebasan
Pandangan dunia mengenai agama Hindu mungkin dapat dikatakan negatif. Agama Hindu dilihat sebagai agama yang mendiamkan ketidak adilan dan ketidak sama rataan sehingga kemudian agama Hindu dianggap terpusat pada dunia lain. Ini terlihat dalam hukum mengenai karma yang mengakibatkan orang cenderung menerima saja atau pasrah akan keadaan mereka. Akibatnya adalah kehidupan masyarakat menjadi mandek dan tidak dapat maju. Maka kemudian agama Hindu juga dipandang sebagai fatalis dan kedap terhadap kemajuan.
Agama Hindu dalam teologinya, memiliki 4 tujuan dan empat tahap dalam hidup. Manusia, dalam agama Hindu, harus melalui empat tahap yaitu, brahmacharya (menuntut pengetahuan dan masuk dalam tradisi kelompok-kelompok), grihasta (mengenai relasi antar manusia dan kelangsungan hidup), vanaprasta (kehidupan spiritual dan menularkan ilmu serta ketrampilan), dan yang terakhir adalah sanyasa (meninggalkan dunia, mengembara dan bersiap-siap menghadapi akerat). Lalu tahap-tahap tersebut harus bertumpang tindih dengan 4 tujuan hidup antara lain, dharma (kebenaran, kebajikan), artha (kemakmuran), kama (cinta kasih) dan moksha ( pembebasan akhir).
Dapat kita lihat, pembebasan disoroti sebagai bebas dari kehidupan dunia. Komitmen pada hidup dan proses-proses biasa maupun dorongan untuk meninggalkan hidup adalah bagian dari tradisi. Pembebasan dipandang sebagai pembebasan dari suatu lingkaran proses inkarnasi dan karma. Pandangan terhadap usaha pencapaian moksha kemudian dilihat sebagai usaha yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehidupan dunia dan sama sekali tidak memiliki implikasi dalam politik, sosial maupun ekonomi.
Lalu sistem kasta yang dikenal dalam agama Hindu tidak memungkinkan bagi mereka yang berasal dari golongan kasta terendah untuk mencapai itu semua. Bagi mereka yang berasal dari golongan itu tujuan kehidupan hanya ada sebatas ideologis dan bukan realitas. Kondisi ini, sejalan dengan kemajuan jaman dan tantangan pengaruh peradaban bagi agama HindU untuk suatu perubahan, akhirnya menimbulkan reaksi-reaksi berupa gerakan-gerakan dan perang-perang untuk pembebasan seperti gerakan Bhakti dan agama Sikh.
Gerakan pembebasan yang paling terkenal mungkin adalah yang dilakukan oleh Mohanndas Karamechand Gandhi. Ia mengembangkan suatu tehnik perjuangan tanpa kekerasan yang disebut styagraha (berpegang teguh pada kebenaran). Sarvodaya atau kebangkitan/kesejahteraan semua orang adalah bentuk masyarakat ideal yang ingin dicapai Gandhi. Ia juga memperkenalkan apa yang disebut ke tak patuhan sipil, dimana orang tidak dapat dipaksa untuk mematuhi suatu peraturan yang tidak adil dan ia juga mengemukakan agar dihapuskannya hukum “perihal tak boleh disentuh” bagi golongan dari kasta rendahan.
Gerakan yang kedua dilakukan oleh Swami Agnivesh. Ia adalah seorang sannyasi yang tergolong Arya Samaj, yang dimuali oleh Swami Dayanand Sarasvati dan bertujuan untuk mengembalikan agama Hindu pada kemurnian aslinya sesuai dengan ajaran Veda. Seperti halnya Gandhi, ia juga menolak sistem kasta karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Veda. Gerakan ini memperkenalkan sebuah ideologi yang disebut sosialisme veda dan menjadi sumber penyemangat bagi gerakan-gerakan petani di Haryana. Agnivesh percaya bahwa setiap agama memiliki pesan pembebasan yang bersifat sosial, namun mereka kehilangan daya itu ketika menjadi bersifat hierarkis dan institusional, lalu cenderung menjadi alat bagi penindas.
Ia lalu memandang sistem sosial adalah yang paling bertanggung jawab dimana kemudian aturan karma diserongkan. Ia memandang bahwa filsafat karma sebenarnya kebalikan dari apa yang dipahami saat ini. Karma seharusnya tidak membuat orang mandek dan pasrah menerima keadaan serta menyalahkan perbuatan masa lalu. Namun karma sebenarnya memberikan otoritas bagi manusia untuk berusaha dimana Allah sendiri tidak dapat memberikan buah-buah tindakan kepada manusia. Karma pada hakikatnya mengamanatkan tindakan untuk pembebasan dengan hasil pasti berupa perubahan.
Gerakan yang ketiga adalah gerakan yang dilakukan oleh E.V. Ramaswamy. Pada tahun 1929 ia mendirikan “Gerakan Harga Diri” yang bertujuan melawan dominasi kaum Brahmin dan agama Hindu, yang dilihatnya mendukung dominasi itu. Ia menuntut penghapusan sistem kasta dan peraturan tidak boleh disentuh. Dalam hal pembaharuan ia melihat bahwa prioritas yang harus dilakukan adalah pembaharuan sosial. Dan sistem kasta dilihatnya sebagai keburukan yang paling buruk dalam hal ini. Salah satu fungsi teologi pembebasan adalah bersikap kritis terhadap unsur-unsur dari agama yang bersifat mengasingkan manusia dari kehidupan dunia dan mensahkan ketidak adilan dan ketiadaan persamaan.
Buddha dan teologi pembebasan
Pencarian terhadap Nirvana atau kekosongan serta ajaran pola hidup yang kelewat sederhana dengan keterikatan peraturan yang ketat, menyebabkan agama Buddha dipandang menyangkal dunia. Agama Buddha dianggap mengasingkan manusia dari kehidupan dunia, memaksa manusia untuk menyangkal hal-hal duniawi yang dianggap semu dan menyesatkan. Namun kontras kemudian jika kita menengok pada perjuangan pembebasan yang dilakukan oleh para biksu di Vietnam yang membakar diri di lapangan-lapangan umum. Lalu para biksu yang ambil bagian aktif dalam politik dan pembangunan di Sri Lanka dan Persatuan Internasional Buddhisme Terlibat di Thailand yang harus masuk penjara karena perjuangannya. Sebenarnya spirit pembebasan ini tercermin dalam tradisi Buddha sendiri. Dalam tradisi Buddha Mahayana, sang Buddha dilihat sebagai Budisathva, yaitu yang mengabaikan kebebasannya sendiri untuk pembebasan semua orang.
Praksis pembebasan pada agama Buddha dapat kita lihat dalam gerakan-gerakan seperti Sarvodaya Sramadana. Gerakan yang awalnya adalah ditujukan untuk para mahasiswa agar dapat memahami dan mengalami duduk perkara yang terjadi di masyarakat, kemudian berkembang maju lalu bergeser pada masyarakat desa dan memberi mereka pendidikan-pendidikan serta penyadaran melalui bimbingan para sukarelawan yang terdiri dari biksu dan mahasiswa. Gerakan ini dipimpin oleh A.T. Ariyaratna. Orang-orang desa tidak hanya menemukan daya kemampuan diri dan daya cipta mereka tapi mereka diarahkan untuk membangun diri mereka sendiri.
Gerakan ini sebenarnya diilhami oleh perkemahan-perkemahan yang dilakukan oleh kaum Quakers dengan inspirasi ideologis dari gerakan yang dilakukan oleh Gandhi. Tujuan gerakan ini mengacu pada kebangkitan Buddha yang merupakan kesadaran akan kenyataan sendiri yang terangkum dalam empat kebenaran luhur yaitu, ada penderitaan, keinginan adalah penyebab penderitaan, keinginan dapat diatasi dan untuk itu harus menempuh delapan jalan yakni; pemahaman yang benar, maksud yang benar, bicara yang benar, tindakan yang benar, nafkah yang benar, usaha yang benar, kehati-hatian yang benar dan pemusatan pikiran yang benar.
Yang kedua dapat dilihat pada gerakan yang dilakukan oleh Bhikkhu Buddhadasa di Thailand. Ia menekankan pentingnya moralitas dan semangat keagamaan dalam kehidupan umum, dan agama Buddha memberikan suatu model sosial-politik yang disebutnya “Sosialisme Dhamma”. Dimana alam semesta dilihat sebagai bagian-bagian yang berhubungan dalam suatu sistem sosialis. Dan manusia terikat dengan ego yang kosong yang tidak begitu saja dapat masuk sebagai bagian dari sistem sosialis ini. Manusia kemudian harus menyelaraskan dirinya dengan alam. Keselarasan ini adalah kebenaran mutlak yang disebut sebagai kekosongan atau nibbana. Maka dari situ jaringan alam bukanlah terdiri dari kumpulan ego-ego melainkan jaringan ketergantungan yang saling timbal balik.
Buddhadasa kemudian memparafrasekan empat jalan luhur sebagai penderitaan diakibatkan oleh perasaan aku dan punyaku, penyebab penderitaan adalah aku dan punyaku, lenyapnya penderitaan adalah lenyapnya aku dan punyaku, jalan mulia rangkap delapan adalah cara melenyapkan aku dan punyaku. Melenyapkan aku dan punyaku berarti menyadari kodrat sosialistisnya. Jalan mulia rangkap delapan dapat dirangkum dalam tiga tindakan yaitu, kebijaksanaan, perilaku moral dan daya wawas, pemusatan diri atau konsentrasi. Maka para biksu Buddha menurutnya bukanlah petapa tapi pengembara yang mempraktekan dengan penuh kesadaran, ilmunya dalam realitas.
Agama Buddha menurutnya tidak mengajarkan untuk meninggalkan dunia tapi justru hidup baik dalam dunia yang dialami bersifat sosialistis atau saling bergantung. Buddhadasa mengkritik kapitalisme sebagai bersifat induvidualistik, egois dan tamak, sedangkan komunisme dilihatnya membagi-bagi masyarakat dalam kelas-kelas dan berkembang dengan dasar kebencian. Ia juga mengkritik demokrasi liberal yang menjunjung tinggi kebebasan adalah bebas merdeka dari kecemaran-kecemaran. Sosialisme Buddhis ini diangkat bukanlah sebagai campuran antara Buddhisme dengan ideologi sosialis berasal dari tempat lain, tapi lahir dari kategori-kategori yang bersifat Buddhis.
Selanjutnya kita dapat melihat gerakan pembebasan yang dilakukan oleh Thich Nhat Nanh, seorang biksu Buddhis dari Vietnam. Pada tahun 1966 ia mendirikan Barisan Sesama Ada. Kelompok ini membantu korban perang, mengatur demonstrasi-demonstrasi, mencetak dan membagi-bagikan buku, pelayanan sosial, dll. Kelompok ini bertujuan untuk menjalin kontak dengan realitas, dengan segala sesuatu yang ada yang membuat kita saling berhubungan, ini tugas yang harus mereka lakukan untuk melakukan pencerahan.
Kong Hu Chu dan pembebasan
Kong Hu Chu sendiri sebenarnya masih menjadi perdebatan bagi sebagian orang, apakah ia termasuk agama atau bukan. Namun hal tersebut sebenarnya timbul dari pemaknaan yang sempit mengenai agama. Dan tidak bisa kita meninggalkannya jika ingin menjelaskan fenomena perjuangan untuk pembebasan di Asia, karena pada kenyataannya Kong Hu Chu juga menghadapi permasalahan yang sama seperti agama-agama lainnya dalam perjuangan pembebasan. Dalam perkembangannya pada realitas sosial, setiap karismanya kemudian menjadi struktur-struktur lembagawi yang kaku.
Begitu dekatnya lembaga-lembaga ini pada kekuasaan-kekuasaan mengakibatkan setiap tradisinya digunakan untuk mensahkan kekuasaan dan penindasan. Padahal kebijaksanaan Konfusianisme yang sebenarnya tidak mengarahkan Agama ini untuk menjadi kumpulan asas-asas dan tata cara yang kaku. Pembebasan dalam pengertian Kongfusianisme adalah pembebasan agama dari takhayul, dan Konfusianisme mengemukakan mengenai tiga ciri khas dari pembebasan manusia yaitu, pertama pembebasan dari kuasa apapun yang tidak diketahui, kedua kesadaran akan tanggung jawab sendiri dan yang ketiga adalah keselarasan sosial dan alam.
Kristiani dan pembebasan
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa teologi pembebasan di Asia diwarnai juga oleh pengaruh-pengaruh kebudayaan Asia, maka berbeda dengan yang terjadi di Amerika Latin, di Asia akan terasa kuat sekali pengaruh lokal ini terhadap perkembangan Kristen. Aloysius Pieris misalnya, ia adalah seorang tokoh teologi pembebasan Kristen dari Sri Lanka yang juga sangat terpengaruh unsur-unsur tradisi Buddha.
Ia mengemukakan bahwa untuk melawan sebab-sebab kemiskinan harus melalui pilihan untuk hidup miskin dan berjabat tangan untuk berjuang bersama-sama dengan mereka yang ternasib miskin baik disebabkan oleh faktor ekonomi maupun politik. Ia memandang jika kemiskinan dan religiosistas dapat bergabung, bahu membahu maka keduanya akan menjadi kekuatan pembebas. Dan ia melihat bahwa hal tersebut merupakan dasar dari ajaran Kristen, dimana Yesus memilih untuk menjadi miskin agar dapat membebaskan manusia. Dalam pandangannya, orang miskin memiliki peranan mesianis karena melalui mereka Allah membentuk sejarah bangsa manusia.
George Soares Prabhu seorang ekseget India kemudian mengemukakan visinya mengenai pembebasan. Ia melihat hanya dengan cinta kasih maka keadilan itu akan muncul. Cinta kasih adalah suatu visi dan misi dari kerajaan Allah dimana manusia harus membuka hatinya untuk cinta kasih tersebut dengan mengasihi sesama. Dengan begitu dapat dmulailah suatu gerakan pembebasan pribadi dan masyarakat yang meliputi seluruh sejarah manusia. Kekurangan-kekurangan dan obsesi-obsesi dipandang sebagai sesuatu yang membelenggu manusia dari kebebasan.
Ia pun merujuk pada pengalaman Yesus dan menganjurkan manusia untuk menurut nilai-nilai tersebut yang dilihatnya akan membawa manusia pada keadilan. Seorang jesuit yang juga kelahiran India, Sebastian Kappen, mengartikan budaya sebagai kesatuan organis antara gagasan-gagasan, kepercayaan, nilai, tujuan yang mengkondisikan cara berpikir masyarakat atau perorangan. Dan ini terjelma dalam lembaga sosial. Lembaga-lembaga sosial ini kemudian akan mengalami krisis baik akibat faktor penjajahan, teknologi maupun ekonomi yang jelas akan mempengaruhi sistem-sistem nilainya.
Namun penyebab penting krisis ini adalah coraknya yang berkelas. Kondisi ini akan membawa lembaga sosial tersebut pada pemaksaan nilai-nilai tertentu yang harus dinilai absah secara universal. Tindakan represif ini akan menimbulkan resistensi dari kelas yang tertindas. Dari kondisi ini ia melihat akan timbulnya orang-orang akan melakukan transformatif yang juga dilihatnya sebagai orang yang bersifat profetis. Selebihnya pengaruh Kristen sebagai inspirasi gerakan pembebasan dapat dilihat pada kasus-kasus yang terjadi dalam revolusi-revolusi diberbagai negara Asia.
Islam dan teologi pembebasan
Islam oleh kebanyakan orang dipandang tidak sejalan dengan pembebasan. Ini karena apa yang terlihat selama ini ialah, Islam menghukum mati mereka yang berzinah dan menghujat Allah, Islam memotong tangan mereka yang mencuri, dsb. Pandangan sepihak ini kemudian menciptakan kesimpulan-kesimpulan sepihak terhadap perilaku Islam dalam tatanan sosial bahwa Islam bersifat fundamentalis dan memaksakan syari’ah (hukum Islam) pada setiap orang. Sebenarnya masalah yang sama juga terjadi pada agama-agama lain. Dan Islam sebenarnya telah banyak mengilhami para pemimpin yang berjuang demi kebebasan. Dalam dunia Islam sebenarnya terjadi banyak gerakan-gerakan pembebasan. Gerakan-gerakan yang lahir akibat ketertindasan yang dialami oleh orang-orang muslim baik pada masa kolonial maupun pasca kolonial.
Ali Shariati seorang pemikir kelahiran Iran adalah contoh aktivis dan pemikir yang harus membayar dengan nyawa segala aktivitas dan pemikirannya. Ia telah bergabung dengan gerakan perlawanan sejak dinobatkannya Shah Iran pada tahun 1953. Pada tahun 1960 ia mendirikan Gerakan Pembebasan Iran dan Front Nasional pada tahun 1962. Ia juga sempat beberapa kali mendekam dalam penjara. Usaha konsientiasinya ditempuh dengan melakukan ceramah-ceramah dan pembagian buku secara gratis. Iran pada saat berada pada situasi dimana kekuasaan Shah dipandang sebagai boneka kekuasaan Barat. Shariati menyebut Allah dalam Islam sebagai Allah orang-orang tertindas. Dan tahuhid bagi Shariati merupakan pandangan dunia yang melihat seluruh dunia, sistem yang utuh, menyeluruh, harmonis, hidup dan sadar diri, yang melampaui segala dikotomi, dibimbing oleh tujuan Ilahi yang sama.
Manusia adalah wakil dari Allah, maka manusia bertanggung jawab tidak hanya atas nasib hidupnya sendiri tapi juga mempunyai tugas untuk memenuhi tujuan Ilahi bagi dunia. Semua orang tidak hanya sederajat tapi juga bersaudara, mempunyai kodrat yangsama. Islam adalah agama yang realistis, kitabnya tidak hanya bicara mengenai metafisika dan kematian saja tapi juga bicara mengenai alam, masyarakat, hidup, dunia dan sejarah. Juga perjuangan, dimana umatnya diajak untuk patuh kepada Allah dan didorong untuk memberontak melawan penindasan, ketidak adilan, kebodohan dan ketiadaan persamaan. Shariati menyoroti bahwa hubungan yang tidak sederajat dan tidak adil antara segelintir orang yang berkuasa dan orang kebanyakan yang tak berdaya, tertindas, merupakan struktur pokok masyarakat dalam segala zaman. Perubahan, feodalisme, imperalisme adalah manifestasi yang berbeda-beda dari struktur dasar yang sama, yaitu ketiadaan persamaan.
Lebih jauh lagi ia melihat bentuk baru penindasan yaitu melalui dominasi ekonomi, dimana rakyat dirangsang untuk menjadi golongan konsumen. Untuk itu disebar luaskanlah budaya materialistis yang seragam. Rakyat, dalam tradisi mereka sendiri, kemudian dilucuti akar-akar budaya dan agamanya. Singkatnya mereka dilucuti jati diri dan kemanusiaannya dan menjadikan mereka obyek-obyek yang mudah dieksploitasi. Shariati kemudian menunjuk pada proses nyata yang sedang berlangsung di Asia dan Afrika saat itu. Ia kemudian menggaris bawahi peranan pemimpin yang disebutnya sebagai pemikir bebas. Bahwa pemimpin bukan saja sebagai pemimpin politik tapi juga kebudayaan yang dapat memberikan pencerahan dan penyadaran kepada rakyat. Para pemimpin ini dilihatnya sebagai penerus jalan nabi dimana tugas sebenarnya adalah memberikan bimbingan dan bekerja demi keadilan.
Kembali ke India, Asghar Ali Engineer adalah seorang pemikir pembebasan yang radikal. Ia terlibat dalam usaha-usaha penegakan HAM dan keselarasan antar agama. Ia menelaah unsur-unsur pembebasan dalam Islam melalui dialog dengan agama Kristen. Ia melakukan pendekatan yang bersifat tekstual, dengan merujuk kembali pada Al Qur’an. Dalam menghadapi kekuatan-kekuatan sosial politik yang tidak adil dan menindas, sebagian orang muslim kemudian berusaha kembali pada pemaknaan kembali Al Qur’an maupun sunna. Mereka percaya bahwa tradisi Islam meberikan suatu rancangan cara hidup bersatu padu dan bebas. Asghar Ali Engineer kemudian melacak unsur-unsur pembebasan dalam Islam sampai ke nabi sendiri dan pengalamannya. Mekkah pada zaman itu adalah sebuah kota dagang dengan sedikit pedagang kaya dan banyak orang miskin. Mereka menyembah berhala dan kaum perempuannya ditindas serta berbagai bentuk kedzaliman lain.
Nabi kemudian diutus oleh Allah SWT untuk membebaskan rakyat dari kebodohan dan penindasan. Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosial revolutif yang menjadi tantangan bagi struktur yang menindas. Ini dapat dilihat pada tujuan dasar dari Islam yaitu, persaudaraan yang universal, kesetaraan dan keadilan sosial. Islam sangat menekankan keadilan disemua aspek kehidupan dan keadilan ini tidak akan tercipta tanpa membebaskan golongan masyarakat lemah dan marjinal dari penderitaan serta memberikan mereka kesempatan untuk memimpin. Asghar Ali Engineer juga melihat bahwa salah satu unsur pembebasan yang penting adalah sikap terbuka, toleransi dan hormat kepada agama-agama lain.
Dari praksis inilah tradisi pembebasan dalam Islam muncul. Asghar Ali Engineer memang lebih diinspirasikan oleh nilai-nilai Al Qur’an ketimbang ilmu-ilmu sosial. Dalam kerasulan Muhammad SAW ia melihat pentingnya praksis kerja yang digerakan Muhammad SAW dalam merubah struktur sosial masyarakat yang timpang dan tidak manusiawi. Nabi Muhammad SAW tidak hanya melakukan revolusi keimanan tapi juga melakukan protes terhadap realitas sosio-kultural masyarakat Arab. Segala tindakan yang dilakukan nabi adalah merupakan praxis pembebasan dengan metode yang tertuang dengan jelas didalam Al-Qur’an. Ini menyiratkan bahwa visi pembebasan telah melekat dan bahkan menyatu menjadi dasar tindakan dalam Islam.


